Sepuluh Tahun Paroki MBSB Wae Sambi :

advanced divider

 

 

MENJADI KOMUNITAS PENGHARAPAN

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, Keuskupan Labuan Bajo, kini berusia 10 tahun. Tahun ini tidak ada kegiatan pertandingan olahraga atau lomba Koor, lomba Baca Kitab Suci, malam Kesenian dsb, tapi diisi dengan refleksi bersama Uskup Labuan Bajo Mgr Maksi Regus melalui kunjungan ke setiap wilayah yang ada dan disi dengan Perayaan Ekaristi.  Kunjungan Uskup Labuan Bajo dimulai di Wilayah 1 Paroki MBSB Wae Sambi pada Selasa, 13 Mei 2025 sore hingga malam hari. Dalam kunjungan pastoral ini, Uskup Maks didampingi Vikep Labuan Bajo, RD Yuvens Rugi, Sekjen Keuskupan Labuan Bajo RD. Frans Nala, Ketua Komisi Komsos RD Erik Ratu, imam senior RD. Marten Tolen, Pastor dari Keuskupan Ruteng RD. Pepy Bora dan Pastor Paroki MBSB Wae Sambi RD. Risno Maden.

Dalam kotbahnya pada perayaan ekaristi bertema : MEMBANGUN KOMUNITAS PENGHARAPAN (Bersama Maria Memaknai Ziarah 10 Tahun Paroki MBSB Wae Sambi),  Uskup Maks mengajak umat yang hadir untuk bersyukur atas  HUT Paroki yang ke 10 dalam mana Tuhan bekerja dan berproses bersama kita dan dalam semangat jalan bersama Bunda Maria. Dalam ziarah Paroki ini kita diajak bermenung tentang makna suatu Komunitas Pengharapan. “Tidak hanya komunitas rohani, tapi juga pribadi, keluarga, KBG, wilayah dan paroki haruslah menjadi suatu komunitas penuh pengharapan”, tegas Uskup Maks.

Uskup Maks mengingatkan, bahwa dalam hidup,  kita selalu mengalami 2 sisi kehidupan, sisi pertama : banyak tantangan, sakit hati dan terluka sedangkan pada sisi lainnya ada keyakinan dan  rasa percaya dalam diri untuk bisa  bersinar sebagai orang-orang yang mengalami kasih Tuhan. Mengutip pesan St. Paulus, Uskup Maks menandaskan bahwa bagi kita pengikut Kristus, pengharapan tidak pernah mengecewakan. “Ada optimisme bahwa yang berpengharapan tidak akan kecewa”, tegasnya lagi.

 

Tiga Ciri Komunitas Pengharapan

Selanjutnya, Uskup Maks menegaskan 3 ciri Komunitas Pengharapan.  Pertama: Sukacita, kegembiraan, kebahagiaan tidak muncul dari hal yang hebat dan luar biasa, tapi sering muncul dari hal yang sederhana dan dari perjumpaan  dalam kehidupan kita. “Kita belajar dari sikap Maria yang mengunjungi Elisabet untuk berjumpa. Dan keduanya memiliki pengalaman dan situasi batin yang bertolak belakang. Bunda  Maria, setelah mendapat kunjungan dari Malaekat, dirinya dilanda ketakutan dan kecemasan serta memiliki emosi yang terguncang. Sebaliknya Elisabet,  berada dalam sukacita yang besar menantikan kelahiran anak yang dinanti-nantikan. Pertemuan  keduanya memunculkan pengharapan dan sukacita. Jadi, pengharapan kita dalam hidup setiap hari muncul dalam perjumpaan. Dalam perjumpaan itu ada tutur kata. Perjumpaan juga memiliki makna sakramental yakni bisa menyelamatkan orang dari keputusasaan dan keterpurukan. Perjumpaan kita alami  mulai dari keluarga, antara orangtua dan anak. “Sejauh mana kita memiliki waktu untuk berbicara dengan anak ? Atau mungkin perjumpaan sering terjadi,  tapi kurang kata-kata karena sibuk dengan Handphone, misalnya”, tandas Uskup Maks lagi.

Kedua, Pribadi yang bertumbuh secara spiritual. Dalam keluarga dan  komunitas sering kita tidak menyadari bagaimana pertumbuhan spiritual. Pertumbuhan spiritual muncul dalam keluarga atau komunitas  yang ada perjumpaan dan pengharapan. Pertumbuhan spiritual pasti juga melewati tantangan seperti: sakit, kegagalan dan lain-lain yang menghadang pertumbuhan iman. Bunda Maria juga mengalami hal demikian. Ia bertumbuh dalam jalan terjal tapi ia memiliki pengharapan.

Ketiga, Komunitas pengharapan menjadi komunitas misioner yang berbagi, berjalan keluar, menyapa dan mewartakan injil lewat kata-kata dan perbuatan baik. Maria sudah memberi contoh dengan Magnificat-nya, “Saya yakin umat wilayah 1 sudah pada level 3 yakni komunitas misioner,  kita menjadi komunitas yang dikumpulkan  lalu menjadi komunitas misioner  yang  ditunjukkan dengan berbuat kasih”, tandas Uskup Maks disambut tepuktangan umat yang hadir.

 

Gereja Bambu

Pastor Paroki MBSB Wae Sambi RD Risno Maden, dalam sambutannya mengingatkan umat akan sejarah awal Paroki Wae Sambi yang dimulai dengan “gereja bambu”. Gereja bambu menarasikan realitas Gereja  sebagai sesuatu yang hidup juga suatu persekutuan kristiani yang bertumbuh, bertunas dan membawa manfaat baik untuk manusia maupun alam semesta. Kunjungan Uskup, kata Romo Risno, memberi nutrisi bagi umat untuk selalu hidup dalam Pengharapan.  “Mari kita  menjalani spiritualitas bambu, makin tua  makin merendah, makin tua makin melengkung atau merunduk”, tandas Romo Risno.

 

Pada kesempatan itu, Ketua Wilayah 1 Paroki MBSB Wae Sambi, Donatus Jerhaman  menyampaikan sepintas tentang data umat, kondisi yang dihadapi dan harapan. Bahwa Wilayah 1 termasuk wilayah yang gemuk dengan 8 KBG yang perlu dimekarkan, demikian juga dua  KBG yakni KBG St. Thomas More yang memiliki 112 kepala keluarga dan KBG Beato Carlo Acutis dengan 60 kepala keluarga yang perlu dimekarkan lagi. “Pemekaran KBG dan Wilayah adalah tanda gereja yang bertumbuh dan berkembang”, tandas Donatus atau biasa disapa Doni. Sedangkan kesulitan yang dihadapi umat terutama sapi-sapi yang berkeliaran yang sulit untuk ditertibkan. “Mungkin perlu bahasa agama untuk menyadarkan umat yang membiarkan sapinya berkeliaran merusak tanaman dan sayur mayur milik orang lain”, harap Doni, sambil meminta Keuskupan memberi perhatian berupa Pastoral khusus bagi 70-an kepala keluarga di KBG St, Thomas More yang datang ke Labuan Bajo untuk mencari pekerjaan dan membangun pondok mereka di atas tanah Pemda. Juga Pastoral khusus untuk anak-anak asrama.

Sebelumnya, Uskup dan rombongan diterima secara adat berupa Kepok dan  tuak curu serta manuk kapu yang dibawakan bapa Lambert Jeharu dan bapa Viktor Raul. Rombongan didampingi  Ketua Panitia Bapak Beni Rana Lebar, kemudian   diantar dengan tarian dari anak-anak Sanggar Seni Ta Te KinD Art. Beberapa lagu dalam perayaan ekaristi diiringi juga dengan tarian. Koor oleh paduan suara dari Wilayah 1 dengan dirigen Tomi Lokang dan organis Kornelis Joni.

Acara resepsi berjalan meriah dengan iringan band milik  bapak Tomi Jerau dan ibu yang menyiapkan tempat perayaan dengan fasilitas yang sangat memadai. Acara resepsi  dipandu bapak Frans Nambut sebagai MC. (Yos M.Palem/Joem)

 

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait