PAROKI MBSB WAE SAMBI MENJADI PENARIK “GERBONG” KEUSKUPAN LABUAN BAJO

Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi resmi berdiri pada tanggal 12 Mei 2016, dengan Pastor Paroki pertama RD. Ardi Obot yang kini menjadi Pastor Paroki St. Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng. Paroki MBSB Wae Sambi memiliki 6 Wilayah yang membawahi 38 KBG. Perayaan HUT ke 10 paroki ini dirayakan di setiap wilayah dengan Misa yang dipimpin Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksi Regus. Kunjungan pertama dilaksanakan di wilayah 1 pada hari Selasa, 13 Mei 2025 dan dilanjutkan hingga wilayah VI.

Dalam sambutannya pada acara jamuan persaudaraan setelah perayaan Ekaristi, Uskup Maks mengakui bahwa kunjungan pastoralnya  kali ini terbilang unik, karena biasanya seorang uskup mengunjungi Paroki-Paroki. Tapi saya kali ini mengunjungi wilayah-wilayah dalam satu Paroki. Selain untuk mengenal kondisi umat secara lebih dekat, kunjungannya kali ini juga mau mendorong dan mewujudkan gereja yang sinodal (jalan bersama) seperti yang selalu didengungkan mendiang Paus Fransiskus. “Kita memiliki kenangan khusus dengan Paus Fransiskus karena keuskupan Labuan Bajo merupakan warisan  terakhir almarhum pada masa tugas kegembalaannya”.

Selain itu, kunjungan ini juga sebagai apresiasi saya bagi Paroki MBSB Wae Sambi yang selama ini berperan aktif dalam mendukung karya-karya di Keuskupan yang baru berusia beberapa bulan ini. “Pastor Paroki, Pengurus DPP dan DKP, para Pengurus wilayah dan KBG pasti tahu bentuk dukungan paroki ini untuk Keuskupan Labuan Bajo. “Saya berharap Paroki MBSB Wae Sambi bisa menarik gerbong  Keuskupan Labuan Bajo agar sesuai kehendak Tuhan” tegas Uskup Maks sambil mengajak seluruh komponen umat di Paroki MBSB Wae Sambi agar  bisa berperan lebih besar lagi bagi Keuskupan Labuan Bajo.

Pendidikan Anak untuk Gereja Masa Depan

Keuskupan Labuan Bajo, lanjut Uskup Maks, didominasi keluarga-keluarga muda dengan usia 50 tahun ke bawah dan memiliki anggota yang masih berusia anak-anak. “Di mana-mana saya menemui banyak anak. Dan ini menjadi harapan dan juga tantangan bagi kita untuk mewujudkan keluarga-keluarga yang tangguh  dan tekun mendidik anak-anak. Ini menjadi tanggungjawab dan panggilan kita untuk Gereja masa depan”, harap Uskup Maks.

Pada kesempatan itu Uskup Maks juga menjelaskan 3 tugas yang dijalankan seorang uskup yakni: Pertama : Menggembalakan dan menuntun umat dengan kesaksian hidup. Kedua, Melayani umat termasuk melayani sakramen-sakramen dak Ketiga, Mengelola dan mengatur. Tiga tugas ini sangat berat dan mengharapkan dukungan awam, biarawan-biarawati, para imam dan berbagai pihak lainnya. “Menggembalakan  diri sendi saja susah, apalagi menggembalakan umat dengan berbagai tuntutannya, tapi kita percaya dalam semangat jalan bersama maka semuanya itu bisa dijalani dengan baik”, tandas Uskup Maks.  (Yos M.Palem/Joem)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait