Penulis : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, MBSBNews,- Festival Golo Koe tahun 2026, resmi diluncurkan. Dalam peluncuran itu Uskup Labuan Bajo, YM. Prof. Dr. Mgr. Maksimus Regus menyerukan 2 krisis utama terkait lingkungan. Butuh pertobatan ekologis agar 2 krisis utama itu tidak membuat bumi sebagai rumah bersama semua mahluk, kian rusak.
Sebagaimana disaksikan media ini, Launching Festival Golo Koe tahun 2026, dipadukan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, berlangsung di Pantai Sudamala Resort, Kamis (04/06/2026).

Uskup Labuan Bajo, YM. Prof. Dr. Maksimus Regus dalam sambutanya pada kegiatan ini menegaskan bahwa saat ini ada 2 krisis yang sedang dihadapi terkait iklim. 2 krisis utama itu adalah kekacauan iklim dan kelangkaan ekologis.
Kekacauan iklim, kata Mgr. Maks, itu merupakan dampak terburuk dari adanya perubahan iklim. “Bukan hanya perubahan iklim yang terjadi saat ini, tetapi kekacauan iklim! Iklim tidak hanya berubah tetapi dia mengalami kekacauan,” tegas Uskup Mgr. Maksimus.
Dilanjutkanya bahwa kekacauan iklim ini sudah menjadi pengalaman yang dialami hampir setiap hari, berupa kejutan-kejutan dalam bentuk bencana yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, melalui banjir, longsor, dan lain sebagainya.
Berikutnya, lanjut Uskup Mgr. Maks, hal kedua yang tidak kalah menakutkan adalah kelangkaan ekologikal. “Kelangkaan ekologis ini ditandai dengan keterbatasan bumi untuk memenuhi kebutuhan standar manusia. Kebutuhan-kebutuhan dasar manusia sudah semakin langka dan bumi pada titik tertentu kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar itu,” lanjutnya.
Menurut Uskup Mgr. Maks, salah satu simpul dari kelangkaan ekologis itu berangkat dari adanya krisis bumi.
Terkait 2 krisis utama itu, Uskup Mgr. Maks kemudian menyinggung seruan Paus Fransiskus dalam dokumen Laudato Si, sebuah ajakan moral dan spiritual global untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Ensiklik ini menyoroti krisis ekologi dan menuntut pertobatan ekologis, dimana segala aspek kehidupan saling terhubung, serta mendesak semua insan untuk mendengar ‘jeritan bumi’.
Uskup Mgr. Maks menegaskan bahwa pertobatan ekologis itu bukan hanya sebagai sebuah bentuk transformasi batin, lebih dari itu pertobatan ekologis itu harus nampak di dalam tindakan.
Dalam mewujudkan tindakan-tindaka itu, kata Uskup Mgr. Maks, ada 3 level atau ranah penting yang perlu dilibatkan, yakni Personal, Komunitas dan Struktural.
“Personal berarti urusan kita masing-masing. Ranah komunitas, itu seperti yang sekarang kita lakukan. Lintas pribadi, lintas komunitas, lintas lembaga, lintas aktor. Sedangkan ranah struktur, itu dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang memproteksi atau menjamin keberlangsungan alam dan lingkungan hidup di sekitar kita,” terangnya.

Menutup sambutanya, Uskup Mgr. Maks menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, secara khusus kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat atas berbagai suportnya sehingga Festival Golo Koe dapat dilangsungkan dari tahun ke tahun.
“Launching festival Golo Koe yang memasuki tahun kelima ini, telah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Karena itu saya mengucapkan terima kasih, yang pertama kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang terus memberikan dukungan, membangun kolaborasi bersama sehingga peristiwa hari ini bisa kita langsungkan,” tutupnya.
Launching Festival Golo Koe tahun 2026 yang disatukan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ini ditandai dengan pemukulan gong dan pelepasan Burung Merpati. Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, bersama unsur Forkopimda turut serta dalam aksi pelepasan Burung Merpati.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan aksi penanaman pohon kelapa di pinggir pantai Sudamala Resort.***


