Labuan Bajo, MBSBNews,- Uskup Labuan Bajo, Mgr. Prof. Dr. Maksius Regus, menegaskan bahwa penyusunan Modul Ajar Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai untuk jenjang SD dan SMP bukan sekadar aktivitas akademis biasa. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya besar bersama dalam membangun peradaban masa depan, sebab Mulok itu adalah jalan pulang menemukan identitas yang kini perlahan mulai hilang.
Hal tersebut ditegaskan oleh Uskup yang akrab disapa Mgr. Maksi ini saat menutup kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Tahap II Penyusunan Modul Ajar Mulok Budaya Manggarai di Aula Setda Kantor Bupati Manggarai Barat, Jumat (17/07/2026) siang.

“Kegiatan ini tidak sekadar hanya menyusun Mulok. Ini peran besar kita untuk memenangkan masa depan, karena banyak bagian dari pendidikan yang justru menjadi korban kekerasan pengetahuan,” ujar Uskup Mgr. Maksi dalam sambutannya.
Menurut Uskup Mgr. Maksi, selama ini narasi kehidupan masyarakat lokal sering kali didefinisikan oleh pihak luar. Ketika berbicara tentang orang Manggarai, justru orang luar yang menulis dan menjelaskannya di dalam buku-buku pelajaran. Kita yang orang Manggarai akhirnya hanya bisa membaca tulisan orang dari luar Manggarai tentang Manggarai.
Oleh karena itu, kehadiran Mulok ini dipandang sebagai bagian dari narasi besar Gerakan Subaltern, sebuah gerakan untuk menyuarakan mereka yang selama ini tidak bersuara.
“Mulok ini perlawanan besar terhadap kekerasan epistemik. Dulu kita belajar tentang pahlawan Cut Nyak Dien di Aceh, tapi kita tidak kenal dengan pahlawan yang ada di daerah kita sendiri,” kritik Mgr. Maksi.
Lebih lanjut, Uskup Mgr. Maksi membedah urgensi mata pelajaran Mulok ini ke dalam tiga dimensi penting, yakni dimensi Sosiologis, yang berperan penting dalam pembentukan identitas generasi muda. Dimensi Antropologis, terkait bagaimana masyarakat lokal memaknai dirinya sendiri. Serta dimensi Ekologis, yang erat dengan keberlanjutan masa depan lingkungan dan ruang hidup.
Ia menyayangkan tren perkembangan zaman selama ini yang justru menjauhkan anak didik dari akar budayanya sendiri. Akibatnya, banyak siswa sekolah saat ini yang tidak lagi mengenali budayanya.
“Mulok ini jalan pulang untuk menemukan kembali makna yang hilang,” tegasnya.
Penyelenggaraan FGD Tahap II ini merupakan buah kolaborasi nyata antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dengan Fakultas Teologi dan Budaya (FTB) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng. Modul ajar yang disusun diharapkan dapat menjadi pedoman resmi pembelajaran muatan lokal di seluruh sekolah dasar dan menengah pertama di wilayah tersebut.
Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah akademisi kompeten dari Unika St. Paulus Ruteng sebagai pemateri sekaligus tim penyusun buku. Di antaranya adalah: Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. selaku Rektor Unika Indonesia St. Paulus Ruteng, Dr. Ino Sutam, Dr. Mantovani Tapung serta sejumlah dosen pendamping lainnya.
Melalui kerja sama ini, modul yang dihasilkan diharapkan tidak hanya kaya secara teoritis, tetapi juga aplikatif dalam menanamkan nilai-nilai luhur budaya Manggarai sejak dini. (Ferdy Jemaun)***


