Edukasi dan Aksi Ekologi Jadi Agenda Khusus Pekan Puncak Festival Golo Koe 2026

advanced divider

Labuan Bajo, MBSBNews,- Pekan puncak kegiatan Festival Golo Koe tahun 2026 ini rencananya akan diisi dengan agenda khusus ekologi,  yang pelaksanaanya dalam bentuk edukasi dan aksi nyata, dengan melibatkan orang muda, pelajar dan komunitas peduli lingkungan.

Demikian salah satu poin Release dari Seksi Publikasi Panitia Festival Golo Koe tahun 2026, yang diterima media ini, Senin (06/07/2026).

“Pekan Puncak Festival pada 10-15 Agustus 2026 akan diisi dengan agenda khusus ekologi. Pada 11 Agustus 2026, akan dilaksanakan Edukasi dan Aksi Ekologis yang melibatkan orang muda, pelajar, dan komunitas peduli lingkungan untuk melakukan pembersihan sampah serta penanaman pohon,” tulis panitia dalam Release itu.

Perarakan Patung Maria pada kegiatan Festival Golo Koe 2025. (Foto : Ist.)

Selain itu, panitia Festival telah menyatakan komitmen untuk mengampanyekan gerakan menjaga keutuhan ciptaan selama penyelenggaraan festival melalui beberapa hal yaitu: pengelolaan pampah yang bertanggung jawab, pengurangan pemakaian plastik sekali pakai, dan aksi nyata pemulihan lingkungan penanaman pohon kelapa di pesisir pantai.

Festival Golo Koe tahun 2026 ini mengangkat keutuhan ciptaan sebagai bagian dari tema yang diusung.  Tema itu lengkapnya adalah “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Tema ini diangkat bertolak dari keprihatinan terhadap krisis lingkungan akhir-akhir ini yang ditandai dengan cuaca ekstrem dan bencana alam di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, Labuan Bajo dan sekitarnya sedang dibangun sebagai destinasi pariwisata superprioritas.

Festival Golo Koe diinisiasi oleh Gereja Keuskupan Ruteng, dan sekarang Labuan Bajo untuk menanggapi geliat pembangunan Pariwisata Labuan Bajo. Melalui Festival ini, pariwisata tidak hanya didukung sebagai penggerak ekonomi dan sosial serta budaya, tetapi juga direnungkan secara spiritual sebagai sarana perjumpaan dengan alam dan sesama, yang membawa kita pada kesadaran akan Tuhan yang mencipta dan menyelenggarakan alam yang indah ini.

Baca Juga : Launching Festival Golo Koe 2026, Uskup Labuan Bajo Serukan 2 Krisis Utama Lingkungan

Dengan Festival golo koe, kampanye pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan diharapkan bergema dan didengar oleh semua elemen yang terkait: pemerintah, swasta, dan masyarakat. Suara kenabian tidak tenggelam di tengah gebiar pembangunan tetapi lebih kuat bergema dengan cara-cara yang elegan.

Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dalam sambutan pada peluncuran Festival Golo Koe 2026, yang berlangsung pada awal Juni 2026, mengingatkan bahwa dunia tengah menghadapi “kekacauan iklim” (climate chaos) dan “kelangkaan ekologis” (ecological scarcity),. Sebagai tanggapan atas krisis tersebut, Gereja mengajak seluruh elemen masyarakat melakukan “pertobatan ekologis” yang diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjadikan bumi sebagai rumah bersama.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menegaskan bahwa tema tahun ini adalah alarm penting untuk menghadapi krisis iklim melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika. Festival ini diharapkan menjadi oase spiritual tempat terjadinya transformasi batin, sosial, dan ekonomi yang mendukung keberlanjutan hidup bersama di Labuan Bajo. (Ferdy Jemaun/Sie Komsos Paroki MBSB Wae Sambi)***

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait