Kunjungan Terakhir ke Wilayah VI, Uskup Mgr. Maksi Kembali Ajak Umat Merawat Komunitas Pengharapan

advanced divider
Umat Wilayah VI saat menerima kehadiran Uskup Mgr. Maksi. (Foto : Dok. Wil. VI)

Labuan Bajo, MBSBNews,- Uskup Labuan Bajo, Mgr.  Maksimus Regus, mengakhiri seluruh rangkaian kunjungan Pastoralnya ke Tingkat wilayah dalam paroki MBSB Wae Sambi, dengan mengunjungi Wilayah VI. Dalam lawatanya itu, Mgr. Maksi kembali mengajak umat untuk sama-sama merawat komunitas pengharapan.

Kunjungan ke wilayah VI Paroki MBSB Wae Sambi, merupakan kunjungan terakhir Uskup Labuan Bajo, yang digelar dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun  Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wae Sambi yang ke-10. Kunjungan ke tingkat wilayah dimulai pada 13 Mei 2025, dan berakhir pada 30 Mei 2025 di wilayah VI.

Uskup Mgr. Maksi saat disambut oleh umat di Wilayah VI. (Foto : Ist.)
Uskup Mgr. Maksi saat disambut oleh umat di Wilayah VI. (Foto : Ist.)

Pada kunjungan terakhir ini,  Uskup Mgr. Maksi didampingi oleh RD. Martinus Tolen Tino,  RD. Martin Wilian (Ekonom Keuskupan), RD. Risno Maden (Pastor Paroki Maria Bunda Segala Bangsa – Wae Sambi ), dan Pater Danto, SVD. Diiringi hujan, tetapi umat tetap bersemangat untuk menyambut.

Sebagaimana di wilayah-wilayah lain, tema kunjungan Pastoral Mgr. Maksi ini adalah ‘MEMBANGUN KOMUNITAS PENGHARAPAN’ dengan Sub Tema ‘Bersama Maria Memaknai Ziarah 10 Tahun Paroki Maria Bunda Segala Bangsa-Waesambi’.

Dalam kata pengantar Misa yang dilaksanakan di rumah ketua wilayah VI, Bapak Yosep Suhandi, Uskup Mgr. Maksi mengungkapkan bahwa sebagai orang beriman kita bersyukur karena Tuhan dengan setia mendampingi perjalanan paroki MBSB hingga memasuki usia tahun yang ke-10.

“Perjalanan satu dekade adalah perjalanan penuh rahmat, perjalanan keselamatan. Semoga setiap orang, keluarga-keluarga, komunitas dan kita semua, sungguh merasakan dalam sejumlah pengalaman hidup kita,  kita di selamatkan oleh Tuhan,” ungkap Bapa Uskup Mgr. Maksi.

Merasa diri diselamatkan oleh Tuhan, lanjutnya, adalah salah satu rahmat terbesar yang harus dipupuk dalam hati, dalam kehidupan keluarga-keluarga dan di dalam komunitas.

“Tanda keselamatan itu juga hadir dalam kebersamaan kita pada malam hari ini. Bersama dalam semangat persaudaraan,  dalam semangat kasih, dalam kegembiraan juga dalam sukacita,” terangnya.

Sementara itu, dalam Homilinya, Bapa Uskup Mgr. Maksi menyinggung soal Paroki yang berpelindungkan Bunda Maria ini.

Dalam Sejarah Gereja,  kata Mgr. Maksi, Bunda Maria adalah figur sentral dalam kehidupan setiap orang. Banyak orang yang menghabiskan waktu di depan Arca Bunda Maria berjam-jam, karena sungguh percaya bahwa Bunda Maria  akan mendengar apapun yang ada di dalam hati.  Sebagaimana bunda Maria telah menemani paroki MBSB selama 10 tahun  perjalanannya.

Pada kesempatan itu, Mgr. Maksi juga menyinggung soal perikop Injil yang telah diperdengarkan yakni tentang kunjungan Maria ke Elisabet saudarinya.

Maria dan Elisabet dalam perjumpaan itu, kata Mgr. Maksi, membawa sukacita dan pengharapan, dan mereka merawat pengharapan  dari perjumpaan itu. Maria dan Elisabet membuat perjumpaan sebagai dasar untuk merawat pengharapan.

“Selain perjumpaan yang meneguhkan dan saling mengobati, kita juga dipanggil untuk menjadi komunitas yang bertumbuh dalam iman. Dan yang penting juga bagi kita, bahwa pengharapan itu harus menjadi bahasa yang harus diungkapkan kepada orang lain dengan bersikap solider. Kita di panggil untuk menjadi pengikut kristus  yang punya kesetiakawanan, berbela rasa dengan orang lain,” terangnya.

Pengharapan itu, lanjutnya, merupakan salah satu kualitas yang harus dicapai dalam ziarah umat sebagai orang beriman. Setiap umat punya cerita kesulitannya masing-masing tetapi menjadi orang yang berpengharapan adalah menjadi orang yang tetap fokus  meskipun ada tantangan, kesulitan ataupun kecemasan.

Pengaharapan yang kecil yang mungkin hampir padam tetap harus dijaga, supaya tetap bernyala terutama di dalam keluarga, dalam komunitas dan dalam Gereja. Karena banyak sekali hal-hal yang membuat umat mudah kehilangan harapan.

Terkait perkembangan Paroki MBSB Wae Sambi, diakui Uskup Mgr. Maksi, sebagai sebuah komunitas  yang memiliki pertumbuhan yang luar biasa. Diharapkanya agar pertumbuhan yang luar biasa itu juga akan berdampak positif pada pertumbuhan keuskupan Labuan Bajo yang baru tumbuh.

Diakuinya bahwa di Keuskupan Labuan Bajo ini terdiri dari keluarga-keluarga muda.  Banyak generasi muda  dan banyak  anak-anak  yang menjadi bagian dari komunitas. Anak- anak menjadi bagian dari kebersamaan.

Bapa Uskup Mgr. Maksi menekankan bahwa hal ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh  keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara rahmat dan berkat dalam diri anak-anak karena kadang-kadang kita melihat anak-anak sebagai masalah.

“Saya secara pribadi tidak memiliki kecemasan tentang Gereja 10 tahun, 20 tahun dari sekarang.  Tetapi yang menjadi kecemasan, bagaimana anak anak muda mengenal Kristus, memiliki iman dalam hidup mereka. Perjumpaan harus saling menguatkan bahkan saling menyembuhkan dan itulah cara kita untuk bertumbuh dalam sebuah komunitas berpengharapan. Mudah-mudahan komunitas berpengharapan menjadi sesuatu yang hidup di dalam diri kita, di dalam keluarga-keluarga kita, di dalam KBG, di dalam wilayah serta paroki kita,” harapnya.

Sementara itu, dalam kata sambutannya, ketua wilayah VI, Bapak Yosep Suhandi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, utamanya kepada Bapa Uskup Mgr. Maksi atas kunjungan Pastoral ini. Diakuinya bahwa kunjungan ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan, tidak saja bagi wilayah VI tetapi juga untuk paroki. Sebab baru kali ini uskup mengunjungi wilayah-wilayah dalam paroki, sebagai bukti bahwa Bapa Uskup Mgr. Maksi sangat dekat dengan umatnya.

Pada kesempatan itu, Bapak Yosep Suhandi juga melaporkan  keadaan umat di wilayah VI, yang terediri dari 174 KK dengan rincian  KBG Sta. Ursula 27 KK, KBG St. Matius 52 KK, KBG St. Lukas 43 KK dan KBG St. Stanislaus 52 KK.

Sedangkan Pastor paroki MBSB Wae Sambi, RD. Risno Maden, dalam sambutannya juga berterima kasih kepada Uskup Mgr. Maksi, sebab di tengah kesibukan tetap menyempatkan diri untuk hadir di Tengah wilayah, KBG dan umat.

“Ada begitu banyak umat yang telah mendapat berkat dari perjumpaan bersama Bapa Uskup. Terimakasih juga kepada pengurus wilayah, pengurus KBG dan juga seluruh umat. Terimakasih banyak untuk persembahan dari hati yang juga kami rasakan sampai di hati,” terang RD. Risno.

RD. Risno juga menegaskan bahwa semua umat diundang untuk merawat komunitas pengharapan. Komunitas atau KBG ataupun wilayah yang berpengharapan adalah komunitas yang selalu berjumpa. Komunitas berpengharapan mesti bertumbuh dalam iman tidak hanya bertumbuh dalam ekonomi.

“Kita juga menjadi pribadi yang bersaksi, menjadi pribadi yang misioner, hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup kita akan berarti kalau kita juga berarti bagi orang lain,” terangnya.*** (Albertina Siti Nurbaya)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait