Uskup Labuan Bajo Pimpin Misa Syukur HUT Ke-7 Rumah Kasih Kkottongnae

advanced divider
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus (tengah) bersama komunitas Ordo Kkottongane. (Foto : Ferdy Jemaun)

Labuan Bajo, MBSBNews,- Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memimpin langsung perayaan misa syukur atas ulang tahun yang ke-7 dari Rumah Kasih Kkottongnae di KBG Sint. Hilarion. Dalam homilinya pada perayaan itu, Uskup Mgr. Maksi berterima kasih atas pelayanan kasih para Suster kepada mereka yang diasuh ditempat itu.

“Selama 7 tahun ini, entah berapa banyak air mata yang jatuh di tempat ini. Entah berapa banyak luka yang disembuhkan di tempat ini. Entah berapa banyak tangan yang terulur ke tempat ini, utk mereka yang tersisihkan,” ungkap Uskup Mgr. Maksi mengawali homilinya, pada perayaan misa yang berlangsung di Kapela Rumah Kasih, Rabu (04/06/2025) sore.

Uskup Mgr. Maksi saat pemotongan kue Ultah Ordo Kkottongnae. (Foto : Ferdy Jemaun)
Uskup Mgr. Maksi saat pemotongan kue Ultah Ordo Kkottongnae. (Foto : Ferdy Jemaun)

Uskup Mgr. Maksi mengakui bahwa bicara tentang kasih di tempat itu sungguh membawa beban yang luar biasa. Karena menurutnya, tempat itu tidak mudah untuk dijangkau secara terus menerus, sebagaimana yang dilakukan oleh para Suster dalam pelayananya.

“Sungguh  bukanlah pekerjaan yang mudah  yang telah diperlihatkan oleh Komunitasi ini selama 7 tahun ini. 7 tahun. Bukan 7 jam, bukan 7 hari. Tapi 7 tahun,” ungkapnya.

Pelayana para Suster di rumah kasih itu, lanjut Uskup Mgr. Maksi, merupakan berkat yang sungguh nyata bagi mereka yang dilayani. Melalui para Suster itu, Tuhan berbicara di tengah kehidupan manusia. Sesuatu yang dilihat dan dirasakan.

“Kita sungguh bersyukur, karena di wilayah keuskupan ini ada para Suster ini, yang memberi contoh yang nyata bagaimana melayani sesama manusia dengan hati yang tulus dan ikhlas,” lanjutnya.

Apa yang dilakukan oleh para Suster di tempat itu, lanjut Uskup Mgr. Maksi, merupakan perwujudan nyata keilahian Allah. Keilahian yang bukan ilusi, tapi nyata bisa dilihat. Pelayanan para suster di tempat itu telah menunjukkan identitas yang hidup dengan nyata.

Menurut Uskup Mgr. Maksi, dengan tindakan kasih yang dilakukan para Suster di Rumah Kasih itu, maka apa yg didengungkan oleh Keuskupan Labuan Bajo di tahun Yubileum ini, bisa terwujud nyata, yaitu harapan menawarkan kepastian akan kasih Tuhan. Harapan akan menjadi teman perjalanan bagi umat beriman untuk berjumpa dengan Kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Uskup Mgr. Maksi juga memastikan bahwa jika kasih ada di tiap hati, maka mereka yang terlupakan akan selalu punya tempat. Selalu ada kasih untuk yang menunggu. Kasih tidak sekedar ungkapan emosional, sebagaimana yang telah ditunjukkan para Suster Kkottongnae. Para Suster di tempat ini telah menjadikan kasih itu sebagai pilihan dan tindakan.

Uskup Mgr. Maksi bersama Sr. Thomas, pimpinan Biara Kkottongnae saat pemotongan Kue Ulang Tahun. (Foto : Ferdy Jemaun)
Uskup Mgr. Maksi bersama Sr. Thomas, pimpinan Biara Kkottongnae saat pemotongan Kue Ulang Tahun. (Foto : Ferdy Jemaun)

Diakui pula Uskup Mgr. Maksi, bahwa dirinya merasa bergembira bisa hadir di tempat itu. Tidak hanya bergembira, tapi juga dikuatkan dan dihibur oleh kebersamaan yg telah dibangun oleh para suster, yang telah memberi warna yang tidak hanya berbeda, tapi juga menantang semua orang dalam melakukan pelayanan.

“Hadir di tempat ini adalah sebuah rahmat. Mudah-mudahan kehadiran kami memberi kekuatan untuk para suster, untuk terus berkarya dan melayani. Para suster sudah menemukan Tuhan dengan cara melayanj sesama yang terlupakan,” ungkapnya.

Diakhir homilinya, Uskup Mgr. Maksi berharap agar para Suster Kkottongnae itu selalu setia dan tabah dalam menjalani panggilan.

“Semoga para Suster di tempat ini selalu tekun, kuat dan tabah untuk menjalani panggilan suci,” harapnya.

Sementara itu, pimpinan komunitas Rumah Kasih Kkottongnae, Sr. Thomas, atas nama biara, menyampaikan terima kasih kepada Uskup Mgr. Maksi dan semua pihak yang telah hadir pada perayaan misa Syukur atas ulang tahun yang ke-7 komunitas itu.

Setelah perayaan misa selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi bersama, yang dimulai dengan pemotongan kue ulang tahun. Pada acara ini, juga disediakan kue ulang tahun untuk Pastor Paroki Wae Sambi, RD. Risno Maden, yang juga merayakan ulang tahun. (Ferdy Jemaun)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait