Penulis : Yosep Min Palem Editor : Ferdi Jemaun
Labuan Bajo, MBSBNews,- Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, RD. Frans Nala Kartijo Udu, menjadi salah satu Nara Sumber dalam kegiatan Katekese ‘Menemukan Wajah Allah di Dunia Digital’ pada hari kedua. Dalam katekese itu RD. Frans Nala mengingatkan digitalisasi yang bisa menjebak para Katekis pada hal-hal yang bersifat individualistis dan isolatif.
Workshop Katekese Digital dengan tema Menemukan Wajah Allah di Dunia Digital yang diselenggarakan Komisi Kateketik (Komkat) Keuskupan Labuan Bajo di Family Center, Ketentang, Labuan Bajo, memasuki hari kedua, Sabtu (13/09/2025)

Pada hari kedua ini, Nara Sumber yang dihadirkan adalah RD. Frans Nala, Sekjen Keuskupan Labuan dengan materi berjudul “Katekese dan Kitab Suci” dan RD. Erik Ratu, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Labuan Bajo, dengan materi : Teknik Fotografi, Videografi, Editing, Meliput Berita Pastoral, Video Narasi-Feature dan praktek yang dibuat dalam kelompok.
Romo Frans Nala dalam paparannya menekankan pentingnya Katekese dalam kehidupan Gereja yang bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi yang semakin mengenal Yesus dan karya-Nya yang membebaskan. Penting juga peserta harus merasakan suasana yang membebaskan itu dalam kegiatan katekese. “Sering suasana dalam katekese menegangkan, dan formal, tidak membebaskan”, tambahnya.
Selain itu, kekhasan karya Pastoral kita yakni adanya refleksi tentang kehadiran Allah dalam setiap kegiatan Pastoral.
“Refleksi tentang kehadiran Allah inilah yang membedakan kegiatan pastoral dengan kegiatan yang diselenggarakan pihak lain”, ujar Dosen Unika St. Paulus Ruteng itu. Dia mengambil contoh, kegiatan Pertanian Organik ataupun kegiatan karitatif, bagaimana refleksi kita dalam menemukan wajah Allah dalam kegiatan tersebut.
Budaya Digital
Katekese pada zaman modern ini tidak bisa terlepas dari penggunaan sarana digital. Gereja didorong untuk menggunakan internet sebagai ruang pewartaan iman. Dunia digital dipandang sebagai tempat berlangsungnya perjumpaan baru antara manusia dan kebudayaan yang membentuk budaya digital.
Diingatkan juga bahwa Katekese digital tidak boleh terjebak pada proses katekese yang bersifat individual dan isolatif.
“Katekese digital harus tetap mengarah pada pengalaman komunal dalam kehidupan komunitas umat beriman. Setelah perjumpaan di medsos, harus sampai juga pada perjumpaan hati ke hati,” tegas RD. Frans sambil.
RD. Frans Nala juga menyebutkan beberapa tantangan yang dihadapi Gereja pada zama post modern ini seperti : individualisme, materialisme dan hedonisme serta post-truth dan relativisme.
Membuat Konten
Sementara itu, RD Erik Ratu, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Labuan Bajo, dalam paparannya menandaskan perlunya strategi merencanakan konten dan memilih platform yang sesuai. Tidak cukup hanya memiliki semangat dan ketrampilan, tetapi juga perlu memiiiki kemampuan dalam menulis narasi, dalam mengambil foto dan video tapi juga perlu ada skedul sehingga kegiatan kita berkelanjutan.

“Dalam perencanaan perlu diperjelas, tentang apa yang mau disampaikan? Untuk siapa kelompok sasaran ? dan jangan lupa berdoa sebelum membuat konten”, ujarnya.
Dalam kegiatan hari kedua workshop juga dibuat praktek membuat konten. Peserta yang berasal dari 12 paroki tersebut dibagi dalam 5 kelompok dan dibuat praktek untuk : tutorial, News atau majalah info pastoral, talkshow, gameshow dan musik.
Para peserta sangat antusias dalam menjalankan praktek berkatekese digital dan diharapkan bisa dilanjutkan di paroki masing-masing. “Perlu kerja sama dengan tim Komsos di Paroki ,masing-masing. Para Katekis yang membuat konten, sedangkan Tim Komsos memproses sampai memproduksinya”, ujar Romo Erik.***


