Penulis : Paulus Jehamat Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, InfoMabar,- Anjangsana untuk mengedukasi remaja putri yang berdomisili pada sejumlah asrama dalam lingkup Paroki MBSB Wae Sambi, terus berlanjut. Kali ini, yang disasar adalah remaja putri dari 7 asrama di KBG Thomas More. Nara sumber utamanya adalah Kanselarius Keuskupan Labuan Bajo, RD. Fransiskus Nala Kartijo Udu.
Sebagaimana disaksikan Tim Liputan MBSBNews, sebanyak 154 remaja putri yang berasal dari tujuh asrama di kompleks Komunitas Berbasis Gerejawi (KBG) Thomas More Sub B Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, Keuskupan Labuan Bajo, menghadiri kegiatan katekese ekologi, yang berlangsung di Aula SMKN I Labuan Bajo, Senin (16/06/2025) sore.

Aula SMKN 1 Labuan Bajo dipilih sebagai tempat kegiatan, berkat masukan positif dari Ibu Viktoria Timung Wulang, selaku anggota IWAKA KBG Thomas More, yang juga merupakan Kepala Satuan Pendidikan SMKN 1 Labuan Bajo. Secara kebetulan, mayoritas penghuni 7 asrama yang dihadirkan dalam kegiatan ini adalah siswi sekolah SMKN 1 Labuan Bajo.
Acara bertajuk ‘Edukasi dan Praktik Pengolahan Sampah bagi Anak dan Remaja’ ini merupakan bagian dari Tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif 2025 yang mengusung tema ‘Persekutuan-Partisipasi-Perutusan’.
Kegiatan itu dimulai pukul 17.00 hingga 21.00 WITA, dan dibuka dengan lantunan lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama oleh para peserta, menciptakan suasana reflektif sebelum memulai sesi inti dengan doa pembuka.
Kegiatan katekese ini menghadirkan narasumber utama, RD Fransiskus Nala Katijo Udu, selaku Sekretaris Jenderal atau Kanselarius Keuskupan Labuan Bajo. Putra Cowang Dereng ini didampingi oleh Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Dominikus Risno Maden dan juga Pater Hendrik serta tim dari Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) wilayah MBSB.
RD. Frans Nala membawakan materi dengan tema sentral ‘Mengelola Sampah, Merawat Ibu Bumi’. Untuk membangun kesadaran peserta, Romo Frans menampilkan gambar-gambar yang memprihatinkan, seperti lahan sawah kering, tumpukan sampah pemukiman warga, dan sampah di sekitar pantai.
RD. Frans menjelaskan tujuan utama katekese ini adalah agar remaja putri SMKN 1 Labuan Bajo menyadari dampak buruk yang disebabkan oleh sampah, menemukan gaya hidup/sikap/perilaku yang menyebabkan persoalan sampah dan termotivasi dan berkomitmen untuk terlibat dalam aksi dan gerakan mengatasi persoalan sampah.
Mengacu Data Memicu Rasa
Untuk memicu rasa khawatir para peserta tentang dampak buruk dari sampah, dalam pemaparannya, RD. Frans mengutip data dari sejumlah sumber terpercaya, diantaranya : Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dimana sepanjang tahun 2022 Indonesia menghasilkan 35,93 juta ton sampah. Jumlah tersebut naik 22,04% secara tahunan dari 2021 sebanyak 29,44 juta ton.

“Menurut jenisnya, mayoritas timbunan sampah nasional itu berupa sampah sisa makanan sebanyak 40,5%. Selain itu, ada pula sampah plastik sebanyak 17,9%, sampah berupa kayu/ranting 13,2%, sampah kertas/karton 11,3%, sampah logam 3,06%, sampah kain 2,6%, sampah kaca 2,2%, sampah karet/kulit 2,1%, dan sampah jenis lainnya 7,1%,” papar RD. Frans.
RD. Frans juga mengutip Katadata Green, yang diakses 18 Januari 2024, bahwa sebanyak 38,4% sampah itu berasal dari sampah rumah tangga. Selain itu, ada juga sampah yang berasal dari pasar tradisional sebanyak 27,7%, sampah yang berasal dari pusat perniagaan 14,4%, sampah yang berasal dari kawasankomersial/industri/kawasa n lainnya 6,12%, dari fasilitas publik 5,4%, dari perkantoran 4,8%, dan dari sumber-sumber lainnya 3,2%
Mengenai situasi lokal Labuan Bajo, RD. Frans mengutip pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Manggarai Barat, Vinsensius Gande, sebagaimana dilansir media daring https://www.posbali.net, bahwa data tahun 2024, timbulan sampah di Kota Labuan Bajo mencapai 33 ton per hari. Namun pada awal hingga pertengahan tahun 2025 timbunan sampah sudah naik antara 25 sampai 27 ton per hari. Situasi ini bisa menimbulkan dampak buruk terhadap berbagai sektor khususnya lingkungan dan pariwisata di Labuan Bajo. Sumber sampah paling banyak disuplai Horekaka (hotel, restoran, kafe dan kapal) disusul pasar, tempat usaha dan sektor rumah tangga.
RD. Frans Nala juga menyoroti pandangan mendiang Paus Fransiskus mengenai masalah sampah yang berkaitan erat dengan mentalitas dan gaya hidup manusia.
“Masalah-masalah ini (limbah/sampah, Red.) berkaitan erat dengan budaya ‘membuang’ yang menyangkut baik orang yang dikucilkan maupun barang yang cepat disingkirkan menjadi sampah. Hendaknya kita menyadari, misalnya, bahwa sebagian besar kertas yang diproduksi, dibuang dan tidak didaur ulang. Sulit bagi kita untuk mengakui bahwa cara kerja ekosistem alamiah memberi kita teladan: tanaman menyatukan pelbagai bahan yang memberi makan kepada herbivora; mereka ini pada gilirannya menjadi makanan bagi karnivora, yang kemudian menghasilkan sejumlah besar sampah organik yang menumbuhkan generasi baru tanaman,” jelasnya.
RD. Frans melanjutkan bahwa pengelolaan sampah yang tidak tepat dapat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan, penurunan kualitas lingkungan, dan dampak sosial-ekonomi. Untuk mengatasi hal tersebut, ia memperkenalkan konsep pengelolaan sampah 5R : Reduce (mengurangi), Recycle (mendaur ulang), Reuse (menggunakan kembali), Repair (memperbaiki), dan Refurnish (memperbarui).
Sebagai bentuk komitmen, RD. Frans mengajak peserta katekese untuk menerapkan beberapa inisiatif, antara lain: menentukan jadwal kerja bakti bersama untuk membersihkan lingkungan rumah, asrama, dan sekitarnya, menyediakan tempat sampah terpilah (organik dan anorganik) di rumah, asrama, dan tempat-tempat umum, mengolah sisa sampah organik menjadi ecoenzym dan pupuk organik, melakukan kampanye kebersihan melalui media sosial, baliho, poster, plakat, stiker, dan pamflet dan mengurangi penggunaan plastik, misalnya dengan membawa kantong belanja yang dapat digunakan berulang kali.

Setelah presentasi materi, Ketua Tim KTM wilayah MBSB Wae Kesambi membagi peserta katekese ke dalam delapan kelompok untuk mendiskusikan pertanyaan seputar masalah sampah yang sering ditemukan, cara mengatasinya, dan bentuk aksi nyata. Peserta dengan antusias dan percaya diri mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka.
Di penghujung acara, peserta diajak bermain kuis Alkitab (Game E-motion) yang disiapkan oleh tim KTM wilayah MBSB Wae Sambi, dengan hadiah botol air isi ulang bagi yang berhasil menjawab. Sebagai kenang-kenangan, setiap peserta juga mendapatkan kalung rosario dari para donatur.
Romo Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD Dominikus Risno Maden, menyampaikan rencana tindak lanjut kegiatan katekese, di mana para peserta diajak untuk membawa sampah dari asrama masing-masing dan mengumpulkannya di Aula Lantai 1 Paroki MBSB Wae Sambi pada Selasa, 17 Juni 2025. Sampah yang terkumpul tersebut akan diolah dalam sesi edukasi bersama narasumber dari Yayasan Kole Project yang akan berlangsung pukul 16.00–18.00 WITA, dengan tujuan memberikan pemahaman mendalam tentang pengelolaan sampah.
Selain para remaja putri, turut hadir pula pada kegiatan ini para pembina asrama, yaitu Ibu Sedis, Ibu Arfy, Ibu Selvi, Mama Jo, Mama Anjello, Kraeng Paje (Sekretaris KBG Thomas More), Ibu Asty (Seksi Persekutuan KBG Thomas More), dan Ibu Tory (seksi IWAKA KBG Thomas More).***


