Labuan Bajo, MBSBNews,- Pasca Gempa bermaknitudo 7,7 Scala Richter yang mengguncang daratan Flores, perayaan Ekaristi pada Misa Mingguan di Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi, Minggu (16/08/2026), digelar di halaman Gua Maria di samping Gereja. Para korban gempa, baik yang meninggal maupun yang menderita karena kehilangan rumah tinggal, jadi intensi khusus pada perayaan misa itu.
Perubahan tempat perayaan misa, dari dalam gereja ke halaman Gua Maria di samping gereja, ini merupakan kebijakan dari Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Risno Maden, menyusul kejadian Gempa Bumi yang berpusat di Mbay Kabupaten Nagekeo, Sabtu (15/08/2026) pagi.

“Perubahan tempat pelayanan misa Paroki MBSB Wae Sambi. Seluruh perayaan misa Mingggu, 16 Agustus 2026 dilaksanakan di Halaman Gua Maria di samping gereja. Bukan di dalam gereja! Jangan lupa membawa payung,” tulis RD Risno dalam flyer yang disebarkan di WhatsApp Group Paroki MBSB.
Sebagaimana disaksikan pada perayaan misa kedua yang berlangsung sejak Pkl. 08.00, bagian depan Gua Maria jadi Altar Gereja. Sedangkan umat mengambil tempat duduk di halaman Gua Maria.
Perayaan Misa Kedua ini dipimpin oleh RD. Mathias Daven, seorang Doktor, Formator di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere dan Dosen Filsafat di IFTK Ledalero. Pada perayaan misa kedua ini, RD. Mathias Daven didampingi Vikaris Parokial Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Erik Ratu.
Dalam kata pengantar perayaan itu, RD. Mathias memberi penegasan bahwa Altar Suci pada perayaan itu menjadi tempat mengadu untuk segala persoalan yang dihadapi pasca gempa bumi, Sabtu (15/08/2026) kemarin, seraya memohon doa dan kekuatan bagi para korban.
“Mari kita hening sejenak, kita bawa seluruh ketakutan kita, kita doakan jiwa-jiwa saudara kita yang wafat kemarin, dan kita mohon kekuatan bagi para korban yang kini kehilangan tempat tinggal,” ajak RD. Mathias pada kata pengantar.
Demikianpun pada homilinya, RD. Mathias mengajak seluruh umat untuk berempati kepada para korban, dan melupakan segala bentuk persiapan untuk dirayakan pada penutupan Festival Golo Koe 2026.
“Pembatalan seluruh rangkaian festival akbar dan pertunjukan seni yang telah direncanakan untuk kemarin sore bukanlah sebuah kegagalan. Sebaliknya, ini adalah sebuah keputusan iman yang mendalam yang mencerminkan kepedulian kita terhadap sesama,” ujarnya.
RD. Mathias juga menyinggung Pesta Perawan Maria Diangkat ke Surga, yang menjadi tema perayaan misa itu.

Ditegaskanya bahwa Bunda Maria tidak diangkat ke surga melalui jalan karpet merah yang mulus dan bebas dari penderitaan; Ia diangkat ke surga setelah jiwanya sendiri ditembus oleh pedang duka yang teramat tajam di bawah kaki salib Putranya.
“Dengan merenungkan misteri iman ini, kita diingatkan bahwa surga bukanlah sebuah pelarian dari realitas yang ada. Sebaliknya, surga adalah sebuah jaminan akhir yang menegaskan bahwa air mata, kehancuran rumah-rumah kita, dan bahkan kematian fisik tidak akan pernah memegang kata terakhir dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah keyakinan yang memberikan kita kekuatan di tengah segala kesulitan,” ujarnya.
RD. Mathias kemudian mengajak umat untuk merubah energi duka dan trauma menjadi sebuah gerakan kasih yang masif, dengan bersolider, saling memegang tangan, saling menguatkan, dan menolak untuk putus asa.
Ditegaskanya pula bahwa air mata kesediahan atas peristiwa gempa kemarin adalah air mata suci yang mempersatukan seluruh umat dalam satu tubuh mistik Kristus yang sedang terluka.
“Dalam kesedihan kita, kita menemukan harapan, dan di tengah kesulitan, kita menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan kita,” tutupnya. (eFJe)


