Penulis : Frumens Amas Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, MBSBNews,- Paroki MBSB Wae Sambi menggelar agenda Pembakalan bagi DPP, DKP, Pengurus Wilayah dan Pengurus KBG, dengan menghadirkan nara sumber dari Puspas Keuskupan Labuan Bajo. Pada momen pembekalan itu, banyak hal yang dibahas, mulai dari gambaran tentang pertumbuhan gereja, tata kelola Pastoral, ‘teman Pastor Paroki’ hingga soal transparasi keuangan gereja.
Sebagaimana disaksikan MBSBNews, Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Risno Maden, mengawali kegiatan pembekalan itu dengan memberikan sambutan sekaligus ucapan selamat datang.

Dalam sambutanya, RD. Risno Maden mengakui bahwa pembekalan yang digelar ini bukanlah hal yang pertama bagi paroki MBSB. Meski bukan hal yang pertama, tapi diyakininya bahwa ‘Gereja selalu bertumbuh’. Dalam pertumbuhan itu, ada 2 hal yang selalu turut menyertai.
“Meskipun hari ini bukan pembekalan yang pertama dalam sejarah 10 tahun Paroki Wae Sambi, tetapi kita meyakini bahwa “Gereja selalu bertumbuh” dengan membawa 2 hal yang menyertai pertumbuhan tersebut, yakni hal yang bersifat tetap dan yang berubah,” jelas RD. Risno, dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Paroki MBSB Wae Sambi, Sabtu (14/06/2025).
RD. Risno kemudian mengibaratkan pertumbuhan Gereja itu seperti benih Sesawi, yang akan terus bertumbuh sebagai Sesawi dan tak akan berubah menjadi pohon Mangga, apapun situasinya.
“Dalam konteks hidup Gereja yang berubah biasanya terkait cara berpastoral yang selaras zaman, kebijakan gereja universal, fokus pastoral dalam Keuskupan Labuan Bajo kita yang juga menjadi fokus kita di Paroki, sembari melihat peluang pastoral yg strategis di paroki kita. Demikian pun dengan tata kelola keuangan di Keuskupan dan paroki. Sekali lagi: ada yang tetap, tetapi tidak sedikit juga yang baru dengan aksentuasi pada hal-hal mendasar,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, RD. Risno juga menjelaskan bahwa kehadiran seluruh pengurus, baik di tingkat DPP, Wilayah maupun KBG, juga wujud dari ‘berjalan bersama’ atau yang sinodalitas.
Menurut RD. Risno, sekurang-kurangnya ada 3 sikap untuk menunjukkan ‘sedang bersinodal’ itu yakni : saling mendengarkan-saling memahami (saling, bukan dominasi/monopoli), discernment (pembedaan roh), baik pada level personal maupun pada level komunal. Peka akan karya Roh kudus. Apa yg Roh Allah kehendaki kita perbuat, serta kepemimpinan partisipatif dan komunitas yang hidup dari dinamika kolaborasi atau kerja sama.
Dibagian akhir sambutanya, RD. Risno menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir, utamanya kepada para nara sumber.
Tata Kelola Pastoral, ‘Teman Pastor Paroki’ dan Transparasi Keuangan
Nara sumber kegiatan pembekalan ini menghadirkan 3 orang ‘petinggi’ dari keuskupan Labuan Bajo. Mereka adalah RD. Charles Suwendi selaku Direktur Puspas, RD. Lian Angkur selaku Sekretaris Puspas dan RD. Martin Wiliam selaku Ekonom Keuskupan Labuan Bajo.

Dalam materinya, RD. Charles Suwendi menjelaskan bahwa sebagai keuskupan baru, fokus tahun pertama adalah tata kelola pastoral yang partisipastif.
“Satu hal yang harus kita sadari bersama adalah bahwa kita berada di titik awal perjalanan Keuskupan Labuan Bajo. Ini memomentum untuk membangun dasar yang kokoh. Fokus kita pada tahun pertama ini adalah tata kelola pastoral yang pertisipatif,” tegas RD. Charles.
RD. Charles Suwendi juga mengajak seluruh anggota DPP, DKP, pengurus wilayah dan pengurus KBG untuk menjadikan Paroki MBSB Wae Sambi sebagai inspirasi bagi paroki-paroki lain yang ada di wilayah Keuskupan Labuan Bajo.
Sedangkan RD. Lian Angkur, yang membawa materi tentang Dewan Pastoral Paroki, memberi penegasan bahwa menjadi Dewan Pastoral Paroki Yang Sinodal, Solid, dan Solider, starnya adalah para pengurus DPP, DKP, Wilayah dan KBG.
Penegasan lain yang disampaikan RD. Lian Angkur adalah terkait keberadaan DPP, bahwa DPP itu teman Pastor Paroki.
“DPP itu tim kerja Pastor Paroki. Pastor Parokinya ada di tengah. DPP Tidak ada di atas Pastor Paroki. DPP tempat berkonsultasi, menjadi temanya Pastor Paroki,” ujar RD. Lian.
Ditegaskan pula RD. Lian bahwa DPP yang dimaksudkannya itu tidak hanya yang ada di pusat paroki, tetapi juga yang ada di wilayah dan di KBG.
Pada kesempatan itu, RD. Lian juga memaparkan tentang struktur DPP sesuai dengan Statuta Keuskupan. Struktur DPP sebagaimana statuta itu, harus menjadi pedoman untuk menyusun struktur DPP Paroki MBSB Wae Sambi.
Sementara itu, RD. Martin Wiliam memaparkan materi tentang tata kelola keuangan Keuskupan Labuan Bajo.

Disampaikanya bahwa mengelola keuangan gereja harus dimulai dengan perencanaan yang matang, sehingga pada akhirnya semua program bisa dijalankan dengan baik dan benar.
Disamping itu, lanjut RD. Martin, pengelolaan keuangan keuskupan Labuan Bajo, harus selaras dengan visi YM Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, yakni ‘Supaya Dunia Diselamatkan’.
Pada kesempatan yang sama, RD. Martin juga menekankan tentang pentingnya transparansi pengelolaan keuangan, baik di tingkat keuskupan, tingkat paroki, tingkat wilayah maupun tingkat KBG.
“Transparansi ini sangat penting. Dan menjadi tugas kita semua untuk memberi penjelasan kepada umat bahwa uang yang kita kumpulkan dari umat, akan kembali ke umat dalam berbabagai bentuk. Uang itu tidak akan ke mana-mana,” tegas RD. Martin.
Setelah dialog dengan peserta, kegiatan pembekalan ditutup dengan sambutan Ketua DPP terpilih, Fridus Tiandi Nardi.
Dalam sambutan penutupnya, Fridus menyampaikan terima kasih, baik kepada seluruh peserta maupun kepada para nara sumber, sambil berharap agar kegiatan pembekalan ini menjadi titik awal bagi seluruh pengurus DPP, DKP, Wilayah dan KBG untuk bekerja dan berjalan bersama.
“Semoga setelah mendapat pembekalan ini kita semua bisa bekerja dan berjalan bersama, sehingga DPP dan DKP yang sinodal bisa terwujud nyata,” tutupnya.***


