HUT Ke-101, WKRI Berbagi Kasih Dengan Para Siswa SLBN Komodo

advanced divider
Ketua WKRI Paroki Katedral Roh Kudus di hadapan para siswa SLBN Komodo. (Foto : Sie Komsos)

Penulis : Yosep Min Palem

Editor : Ferdy Jemaun

Dalam rangka HUT yang ke 101 Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pengurus WKRI Cabang Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo dan Ranting Paroki Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, mengadakan anjangsana dan berbagi kasih di SLBN Komodo. Anjangsana ini juga sebagai wujud dari misi Gereja Keuskupan Labuan Bajo, yang salah satunya adalah solider.

Sebagaimana disaksikan MBSBNews, WKRI Paroki Katedral Roh Kudus dan Paroki MBSB Wae Sambi, melakukan kunjungan ke SLBN Komodo yang letaknya berhadapan dengan gedung DPRD Manggarai Barat, itu berlangsung pada Kamis (19/06/2025).

Rombongan WKRI saat tiba di SLBN Komodo. (Foto : Sie Komsos)
Rombongan WKRI saat tiba di SLBN Komodo. (Foto : Sie Komsos)

Rombongan dipimpin Ketua WKRI Cabang Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Adeltrudis Danus dan Ketua WKRI ranting Paroki MBSB Wae Sambi, Bibiana Jaya, disambut dengan penuh sukacita oleh anak-anak SLBN Komodo bersama para guru dan pegawai.

Begitu memasuki ruang pertemuan, rombogan ibu-ibu yang mayoritas memakai seragam berwarna biru itu disambut dengan lagu ‘Hidup adalah Kesempatan’ dipimpin seorang anak kelas V SDLB bernama Renata dengan iringan musik yang dimainkan seorang guru tunanetra bernama Daniel Klementino. Sementara itu  ibu-ibu menyalami anak-anak dengan berjabatan tangan dan berpelukan.

Dalam sambutannya, Ketua WKRI Cabang Labuan Bajo, Adeltrudis Danus menyatakan bahwa kunjungan ke SLBN Komodo menjadi agenda khusus WKRI di Labuan Bajo dalam menyambut HUT ke 101 organisasi.

“Ini menunjukkan kepedulian ibu-ibu untuk anak-anak berkebutuhan khusus agar anak-anak tetap bersemangat dan dapat bersosisalisasi dengan teman-teman di lingkungan, karena kita semua sama ciptaan Tuhan yang istimewah”, tandasnya sambil mengingatkan visi dan misi Keuskupan Labuan Bajo salah satunya adalah solider dengan sesama.

“Jangan melihat apa yang kami bawa, tapi lihatlah hati kami yang peduli dengan kalian. Tetaplah semangat belajar dan kembangkan diri, membantu orangtua di rumah sesuai kemampuan dan tanamkan kepercayaan diri bahwa kita dicintai Tuhan dan sesama” lanjutnya lagi.

Program Khusus, Ciri Khas SLB

Kepala SLBN Komodo, Yosep Min Palem, dalam sambutaannya membeberkan tentang kekhasan SLB yakni diterapkannya Program Khusus sesuai ketunaan dengan penekanan pada 3 hal yakni: Bantu diri sendiri (urus diri), kemampuan bersosialisasi/berkomunikasi dan bisa bekerja secara maksimal sesuai ketunaannya.  Siswa SLBN Komodo berjumlah 72 anak dari jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB.

“Tujuan akhir pendampingan di SLB adalah anak-anak bisa urus diri dan mengembangkan kemampuan secara maksimal agar setelah tamat dari sekolah bisa bekerja secara mandiri”, tandasnya sambil memberi contoh beberapa anak asuhnya yang sudah bisa bekerja seperti Riko bisa menjahit sepatu dan menghasilkan uang sendiri, Lala, Novi, Yolan dan Anjel yang sudah bisa membuat kue serabe dan beberapa jenis kue lainnya dan Vivi yang tunarungu sudah bisa merias wajah, Alen,Putra, Patris bisa membuat paving.

Acara penuh rasa persaudaraan itu diisi juga dengan penyerahan secara simbolis bantuan sembako untuk anak-anak asrama dan  menyanyikan bersama beberapa lagu rohani. Suasana sempat menjadi haru dan beberapa orang ibu meneteskan air mata ketika seorang anak bernama Rio (tunadaksa) menyanyikan lagu  berjudul Walau Ku Tak Dapat Melihat dengan syair antara lain: ”walau ku tak dapat berharap, atas kenyataan hidupku, namun hatiku tetap memandang padaMu, Kau ada untukku…”

Rangkaian acara ditutup dengan meninjau asrama SLBN Komodo yang terletak di sebelah utara sekolah yang berdiri pada tgl 1 Juli 2016 itu di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.***

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait