“Pesta St. Yakobus, Rasul: Pelayan dan Martir”

advanced divider

Pesta St. Yakobus, Rasul

Bacaan I: 2 Kor 4:7-15

Bacaan Injil: Mat 20:20-28

St. Yakobus Rasul dijuluki sebagai “Anak Guruh” karena semangatnya yang luar biasa. Ia dipanggil Yesus saat menjala ikan bersama saudaranya Yohanes, lalu meninggalkan segalanya untuk mengikuti-Nya. Yakobus menjadi saksi setia sampai ke Kalvari, dan merupakan rasul pertama yang menumpahkan darah demi Kristus sebagai martir di Yerusalem.

Dalam Injil Matius Ibu Zebedeus bersama anak-anaknya mendekati Yesus dan memohon tempat terhormat: satu di kanan, satu di kiri dalam Kerajaan-Nya. Permintaan itu lahir dari ambisi dan keinginan dihargai. Yesus tidak memarahi, tetapi meluruskan. Ia berkata: “Barangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan.” Bagi Yesus, kebesaran sejati bukan soal kursi kehormatan, melainkan hati yang rela melayani dan mengosongkan diri demi orang lain.

Yakobus memang pernah berkata “kami sanggup” saat Yesus bertanya tentang meminum cawan penderitaan. Dan ia menepatinya. Tapi Ia tidak mencapai kemuliaan lewat tahta atau kedudukan terhormat seperti yang diminta ibunya. Yakobus mencapai kemuliaan lewat salib dan pelayanan. Ia menjadi rasul pertama yang wafat sebagai martir demi Kristus di Yerusalem. Dari Yakobus kita belajar: jalan menuju kerajaan Surga, bukan jalur kuasa, melainkan jalur pengorbanan, kesetiaan, dan melayani sampai tuntas.

Kita sering seperti ibu itu: mengejar posisi, pengakuan, dan “berkat” tanpa salib. Yakobus mengajar bahwa kemuridan sejati bukan soal duduk di kanan-kiri, tapi soal berani melayani dan berkorban. Tuhan tidak memanggil kita untuk berkuasa, tapi untuk membasuh kaki.

Di tengah keluarga, pekerjaan, komunitas: cawan apa yang sering kita minum? Cawan ambisi, kuasa atau cawan pengorbanan, salib, kasih dan pelayanan?

Tuhan memberkati!

 

Oleh : Fr. Fredos Magung

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print