“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Pertanyaan orang Farisi kepada Yesus sebenarnya adalah sebuah jebakan. Mereka ingin melihat apakah Yesus akan berpihak kepada kekuasaan atau menentangnya. Namun, Yesus tidak terjebak. Ia justru mengingatkan bahwa hidup memiliki tanggung jawab: ada kewajiban kita sebagai warga negara dan ada pula tanggung jawab kita sebagai orang beriman.
Sabda ini terasa begitu dekat dengan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan bukan hanya warisan yang kita terima, tetapi amanah yang harus kita rawat. Menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur berarti membangun Indonesia dengan kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian.
Namun, di tengah sukacita kemerdekaan, saudara-saudari kita di daratan Flores sedang menghadapi kenyataan yang berat akibat bencana alam dan gempa bumi. Ketika tanah berguncang, kita kembali disadarkan betapa rapuhnya kehidupan. Dalam sekejap, rumah yang menjadi tempat berlindung dapat berubah menjadi puing. Jalan yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lain dapat retak. Dan hati manusia pun dipenuhi kecemasan.
Yang paling penting adalah adalah jangan sampai gempa ini juga meruntuhkan persaudaraan kita.
Bencana yang mengguncang tanah Flores, hendaknya membangunkan hati kita yang kian lama membatu. Air mata saudara kita hendaknya mengetuk pintu kepedulian. Puing-puing yang berserakan hendaknya menjadi panggilan bagi kita untuk membangun kembali, bukan hanya bangunan, tetapi juga harapan.
Di sinilah kemerdekaan memperoleh wajahnya yang paling indah. Indonesia yang adil adalah Indonesia yang tidak membiarkan mereka yang menderita berjalan sendirian. Indonesia yang makmur adalah Indonesia yang mau berbagi. Indonesia yang berdaulat adalah Indonesia yang memiliki hati untuk melindungi dan menguatkan rakyatnya.
Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Salah satunya adalah kasih. Dan kasih tidak cukup hanya diucapkan dalam doa. Kasih harus menjadi tangan yang menolong, kaki yang mendatangi, hati yang menghibur, dan kehidupan yang rela berbagi.
Pada HUT RI ke-81 ini, marilah kita tidak hanya mengibarkan merah putih di halaman rumah, tetapi juga mengibarkan bendera kepedulian di dalam hati. Sebab ketika satu bagian dari bangsa ini terluka, seluruh Indonesia dipanggil untuk merasakan sakitnya.
Tanah yang berguncang, rumah yang roboh, tetapi persaudaraan jangan runtuh. Dari tanah Flores yang berduka, semoga tumbuh kembali harapan—seperti tunas hijau yang perlahan muncul dari tanah setelah musim panjang.
Tuhan memberkati Indonesia.
Bunda Maria mendoakan Flores.
Dirgahayu Republik Indonesia!