Perumpaman Tentang Seorang Penabur
(Mat. 13:36–43)
Injil hari ini mengisahkan penabur yang menabur benih baik. Seorang penabur bijaksana mengenal tanah, memahami musim, dan menaruh harapan pada benihnya. Namun ia tahu, hasil akhir ada di tangan Allah. Tugas kita hanya menabur dengan setia, Allah yang menumbuhkan (1Kor. 3:6).
Perumpamaan ini cermin bagi proses iman kita. Benih panggilan, baik sebagai imam maupun awam, adalah benih baik yang ditanam Allah dalam hati. Benih itu tidak langsung berbuah. Ia harus bertumbuh, diterpa panas, angin, dan musim yang tak menentu. Demikian juga iman kita. Kita dipanggil untuk terus mendalami iman agar semakin menyerupai Kristus, Sang Imam Agung, dan menjadi tanda kehadiran Allah di dunia.
Menjadi Katolik bukan hanya soal pengetahuan. Lebih dari itu, ini proses transformasi batin. Allah membentuk hati, memurnikan motivasi, dan meneguhkan karakter kita sebagai murid dan gembala. Suka-duka, berhasil-gagal, semua dipakai Allah untuk memurnikan agar benih panggilan berbuah lebat.
Lalang mengingatkan bahwa di dalam diri kita ada pergulatan antara rahmat Allah dan kelemahan manusia. Beriman bukan berarti bebas dari luka dan godaan. Kekudusan bukan ketiadaan kelemahan, melainkan kesediaan membiarkan Allah berkarya lewat kelemahan itu.
Yesus menegaskan bahwa benih baik akan menghasilkan buah baik. Panggilan kita adalah benih ilahi. Ukuran menjadi Katolik sejati bukan pada luasnya pengetahuan, tetapi pada buah hidup: kerendahan hati, kemurnian, ketaatan, kasih, semangat melayani, dan kesetiaan kepada Kristus. Tanpa kesaksian hidup itu, panggilan kehilangan daya pewartaannya.
Mari kita pelihara benih panggilan itu. Allah pasti menumbuhkannya.