JADILAH IKAN YANG BAIK SAAT PUKAT DITARIK- Homili Minggu Biasa XVII/A

advanced divider

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Bacaan Pertama hari ini, Allah memperlihatkan kepada kita tiga hal yang paling sering dimohonkan manusia dalam doa, yakni umur panjang, kekayaan, dan kemenangan atas musuh atau kesempatan untuk membalas dendam. Namun, Allah justru memuji Salomo karena ia tidak meminta ketiga hal itu. Salomo hanya memohon satu hal, yaitu hikmat dan pengertian.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan hikmat dan pengertian? Kitab Amsal mengatakan, “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Ams 9:10). Artinya, bagi Salomo, takut akan Allah jauh lebih penting daripada takut akan umur pendek, takut jatuh miskin, ataupun takut terhadap musuh. Takut akan Allah merupakan kebijaksanaan Kristiani, yakni takut melukai hati Allah melalui dosa-dosa kita.

Di sisi lain, Salomo memahami bahwa mengenal Allah jauh lebih bermakna daripada sekadar menguasai ilmu pengetahuan atau memahami banyak hal di dunia ini. Mengenal Allah bukan hanya memuaskan dahaga intelektual, melainkan juga melahirkan keberanian untuk menaati kehendak-Nya. Itulah yang dimaksud Allah ketika memberikan kepada Salomo pengertian untuk memutuskan perkara dengan adil sesuai kehendak-Nya.

Saudara-saudari,

Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan yang menuntut kita mengambil keputusan. Di sinilah hikmat dan pengertian menjadi sangat penting. Tanpa kedekatan dengan Allah, orang dapat meninggalkan Gereja Katolik demi harta, tahta, atau jodoh. Tanpa kedekatan dengan Tuhan, pembangunan yang mengatasnamakan kemajuan dapat dengan mudah mengorbankan alam, rumah kita bersama. Tanpa kedekatan dengan Allah, pinjaman online dan judi online terasa lebih menjanjikan daripada kerja keras yang jujur. Tanpa kedekatan dengan Allah, pasangan sendiri diabaikan sementara pasangan orang lain justru didambakan. Tanpa kedekatan dengan Allah, hari Minggu hanya dipandang sebagai tanggal merah, bukan sebagai kesempatan untuk menyembah Allah. Bahkan tanpa kedekatan dengan Tuhan, kekuasaan dapat disalahgunakan untuk melakukan korupsi demi memperoleh kekayaan dan kehormatan di mata manusia. Semua itu menunjukkan bahwa persoalan terbesar manusia bukanlah kurangnya umur panjang atau kekayaan, melainkan kurangnya hikmat untuk memilih sesuai kehendak Allah.

Kita dapat belajar dari Santo Thomas More, Kanselir Inggris yang sangat dihormati. Ia memiliki hampir segala sesuatu: kekayaan, kedudukan yang tinggi, rumah yang megah, dan kecerdasan yang diakui di seluruh Eropa. Namun, ketika dipaksa memilih antara menaati Raja Henry VIII yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin Gereja di Inggris atau tetap setia kepada Kristus dan Gereja-Nya, Thomas More memilih kehilangan nyawanya daripada kehilangan imannya. Ia rela dipenggal demi kesetiaannya kepada Tuhan. Kata-kata terakhirnya di hadapan algojo menjadi ringkasan seluruh hidupnya: “Aku adalah pelayan raja yang baik, tetapi aku adalah hamba Allah yang pertama dan terutama.” Inilah buah dari hikmat sejati, yakni keberanian untuk memilih Allah di atas segala-galanya.

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah merupakan ungkapan kasih kepada-Nya. Kasih kepada Allah itu kemudian memancar menjadi kasih kepada diri sendiri, sesama, dan kepada alam ciptaan yang lain. Karena itu, kita tidak dapat mengaku sebagai orang yang beriman apabila dalam pilihan-pilihan sederhana setiap hari kita justru lebih memilih kebohongan daripada kejujuran. Ketika seharusnya kita berkata “ya”, kita memilih berkata “tidak”. Sebaliknya, ketika seharusnya kita berkata “tidak”, kita justru mengiyakan. Iman sejati selalu tampak dalam keputusan-keputusan konkret yang kita ambil setiap hari.

Injil hari ini semakin menegaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Kerajaan Allah itu ada dalam tumpukan pilihan hidup kita, yang oleh para martir melihatnya sebagai mutiara paling berharga yang membuat mereka rela mengorbankan segalanya termasuk nyawa mereka sendiri, daripada mengingkari iman dan kasihnya akan Allah, seperti yang dipilih oleh St. Thomas More.

Pilihan itu memang tidak mudah. Mengikuti Kristus berarti memikul salib, menyangkal diri, dan berjuang melewati pintu yang sempit. Namun, justru jalan itulah yang menghantar manusia kepada keselamatan kekal.

Keselamatan bukan sekadar karena kita telah dibaptis atau tercatat sebagai orang Katolik. Keselamatan menuntut kita menjadi pribadi yang setiap hari bertumbuh dalam hikmat dan pengertian, semakin dekat dengan Allah, serta semakin taat kepada kehendak-Nya.

Dalam kesempatan lain Yesus berkata, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Artinya, pukat Kerajaan Allah telah ditebar di lautan kehidupan kita. Cepat atau lambat, pukat itu akan ditarik. Pada saat itulah akan tampak mana ikan yang baik dan mana yang tidak baik. Pesannya sederhana: jadilah ikan yang baik saat pukat ditarik. Jadilah murid Kristus yang setia ketika saat kematian tiba, agar kita diperkenankan masuk ke dalam sukacita Kerajaan Surga.

Santo Paulus memberikan jaminan yang menguatkan kita. Ia berkata bahwa Allah akan “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Bahkan perjalanan hidup Paulus sendiri—dari Saulus, sang penganiaya Gereja, menjadi Rasul Kristus—membuktikan bahwa setiap pendosa selalu memiliki kesempatan untuk menjadi kudus. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam bagi rahmat Allah. Yang diperlukan hanyalah hati yang mau bertobat dan keberanian untuk memilih Allah setiap hari.

Karena itu, marilah kita memohon seperti Salomo. Janganlah pertama-tama meminta umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh, tetapi mintalah hati yang berhikmat dan penuh pengertian. Sebab orang yang memiliki hikmat akan mampu memilih Kerajaan Allah di atas segala-galanya. Ia akan lebih memilih kaya di hadapan Allah daripada sekadar kaya di mata manusia, lebih memilih mengampuni daripada membalas dendam, lebih memilih kesetiaan daripada kenyamanan, dan lebih memilih kehendak Allah daripada kehendaknya sendiri.

Semoga Tuhan yang telah mengabulkan permohonan Salomo juga mengabulkan doa-doa kita. Semoga Ia menganugerahkan kepada kita hikmat untuk memilih yang benar, keberanian untuk hidup setia, dan ketekunan untuk tetap mengasihi-Nya sampai akhir hidup. Ketika kelak pukat Kerajaan Allah ditarik, semoga kita semua didapati sebagai ikan-ikan yang baik, yang layak dikumpulkan ke dalam Kerajaan Surga.

Semoga.

———————————-

Bacaan Liturgi Minggu, 26 Juli 2026

Hari Minggu Biasa XVII

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: 1Raj 3:5.7-12

Mazmur Tanggapan: Mzm

119:57.72.76-77.127-128.129-130

Bacaan II: Rom 8:28-30

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25

Bacaan Injil: Mat 13:44-52

Oleh : RD Risno Maden

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print