“Bersihkan Telaga Hatimu”

advanced divider

Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi

(Mat 15:1-2.10-14)

Kaum Farisi mempersoalkan tangan yang tidak dibasuh, tetapi Yesus justru menyingkap persoalan yang lebih dalam: hati yang tidak dibersihkan. Bagi-Nya, kesalehan bukan pertama-tama diukur dari ritual, melainkan dari ketulusan hidup. Tradisi memang berharga, tetapi akan kehilangan makna bila tidak menuntun manusia kepada kasih.

Sering kali kita pun mudah sibuk menjaga penampilan iman—rajin berdoa, hadir di gereja, atau aktif dalam pelayanan—namun lupa membersihkan hati dari iri, kesombongan, dan penghakiman. Hati yang keruh laksana cermin berdebu: ia tak lagi memantulkan wajah Allah, hanya bayang-bayang diri sendiri. Di situlah akar kebutaan rohani yang diperingatkan Yesus.

Kristus mengundang kita untuk kembali kepada inti iman: membiarkan Sabda-Nya menjernihkan batin. Sebab dari hati yang disucikan akan mengalir perkataan yang menguatkan, tindakan yang menghidupkan, dan kasih yang tidak berpura-pura.

Tuhan, bersihkanlah hatiku. Jangan biarkan aku hanya memelihara penampilan iman, tetapi tuntunlah aku memiliki hati yang tulus, sehingga hidupku sungguh menjadi pantulan kasih-Mu bagi sesama.

Amin.

 

Oleh : Fr. Fredos Magung

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print