Rayakan Misa di KBG Thomas More, RD. Risno Paparkan 3 Dimensi Gereja Yang Saling Melengkapi

advanced divider
RD. Risno Maden (tengah) saat foto bersama umat KBG St. Thomas More. (Foto : Dok. KBG)

Batu Cermin, MBSBNews,- Pastor Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Wae Sambi, RD. Dominikus Risno Maden, memaparkan 3 dimensi gereja yang saling melengkapi. 3 dimensi itu adalah Gereja yang berziarah di dunia, Gereja yang dimurnikan di api penyucian, dan Gereja yang berjaya di surga.

3 dimensi gereja itu, dipaparkan oleh RD. Risno dalam homilimya pada perayaan ekaristi kudus, sebagai bagian utama dalam agenda kunjungan ‘Bunda Maria’ pada bulan Rosario, ke KBG St. Thomas More, Kamis (13/11/2025) malam.

Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Risno Maden, saat misa di KBG St. Thomas More. (Foto : Dok. KBG)
Pastor Paroki MBSB Wae Sambi, RD. Risno Maden, saat misa di KBG St. Thomas More. (Foto : Dok. KBG)

Dalam homilinya, RD. Risno mengangkat tema tentang Gereja yang berjalan bersama dan diutus untuk bersaksi, sekaligus merenungkan peran Bunda Maria sebagai tabut perjanjian baru dan teladan Gereja dalam peziarahan iman.

Di awal perayaan, RD. Risno mengingatkan umat agar tidak berhenti pada seremoni liturgi semata.

“Kita diingatkan bahwa iman yang dirayakan di altar mesti selalu dihidupi dalam persaudaraan KBG dan diwartakan lewat kesaksian hidup kita sehari-hari,” ujar Romo..

Dalam penjelasannya, Romo Risno memaparkan tiga dimensi Gereja yang saling melengkapi, yakni : Gereja yang berziarah di dunia, Gereja yang dimurnikan di api penyucian, dan Gereja yang berjaya di surga.

“Gereja yang sedang berziarah itu adalah kita semua. Gereja yang sedang dimurnikan adalah semua jiwa yang berada di api penyucian. Dan Gereja yang sudah berjaya adalah mereka yang telah menikmati sukacita kekal bersama Allah di surga,” jelasnya.

Berjalan bersama sebagai Gereja, lanjut RD. Risno, bukan perjalanan yang instan. “Berjalan bersama memang membuat perjalanan ini terasa lebih lambat. Kalau mau jalan cepat, jalanlah sendirian. Tapi kalau mau menempuh perjalanan jauh, maka jalanlah bersama,” katanya sambil tersenyum.

Merenungkan bacaan Kitab Wahyu dan Injil Lukas yang dibacakan dalam misa, RD. Risno menguraikan makna simbolis tabut perjanjian dan sosok Bunda Maria sebagai pusat devosi bulan kunjungan ini.

“Perempuan berselubungkan matahari yang digambarkan dalam Kitab Wahyu melambangkan Maria, sang tabut perjanjian baru yang mengandung Sang Juru Selamat,” tutur Romo.

Ia menegaskan bahwa dalam diri Maria, kasih Allah tampak nyata dan konkret.  “Dalam rahim Maria bukan lagi dua loh batu berisi sepuluh firman, tetapi Sang Firman sendiri yang menjadi manusia. Bukan lagi manna, tetapi roti hidup, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Bukan lagi tongkat Harun, tetapi Sang Imam Agung yang sejati,” lanjutnya penuh penekanan.

RD. Risno juga menghubungkan kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Seperti Raja Daud yang menari-nari menyambut tabut perjanjian lama, Yohanes Pembaptis juga meloncat-loncat kegirangan dalam rahim Elisabet ketika mendengar salam Maria,” jelasnya.

Umat KBG. St. Thomas More saat mengikuti misa. (Foto : Dok. KBG)
Umat KBG. St. Thomas More saat mengikuti misa. (Foto : Dok. KBG)

Menyinggung ajaran Gereja tentang Maria yang dikandung tanpa noda dosa, RD.  Risno menegaskan bahwa Maria diselamatkan secara istimewa oleh Allah sejak awal keberadaannya.

“Salam Maria, penuh rahmat. Kalau rahmat itu penuh, berarti tidak ada dosa di dalam dirinya. Allah mempersiapkan rahim Maria sebagai tabut perjanjian baru yang kudus untuk Putra-Nya,” tegas Romo.

Dalam suasana penuh keakraban, RD. Risno mengajak umat menyadari identitas terdalam sebagai pribadi yang dikasihi Allah. “Di kedalaman hati kita, kita semua adalah pribadi yang sungguh dicintai oleh Tuhan, terlepas dari apakah kita tua, muda, miskin, kaya, imam, atau awam. Kita semua ditempatkan Allah sebagai yang pertama dan utama dalam hati-Nya,” ujarnya.

Dari kesadaran itu, RD. Risno mengajak umat untuk belajar mencintai diri sendiri secara benar dan menempatkan Kristus sebagai pusat hidup.

“Kita semua dicintai oleh Allah. Pertanyaannya: mengapa kita sering tidak mencintai diri kita sendiri?” tanyanya retoris.

“Kalau Allah sudah menempatkan kita sebagai yang utama di hati-Nya, maka kita pun harus menempatkan Kristus sebagai yang utama dan pertama dalam hidup kita,” tambahnya.

Masih dalam semangat bulan kunjungan Bunda Maria, Romo Risno menegaskan bahwa umat KBG Santo Thomas More dipanggil untuk tidak berjalan sendiri-sendiri dalam pelayanan.

“Kita dipanggil menjadi Gereja yang sinodal  berjalan bersama, saling menopang, saling menguatkan, dan saling mengasihi. Hanya dengan cara itu, Gereja sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia,” tegasnya.

Ia menegaskan kembali bahwa iman bukan hanya dirayakan, tetapi harus diwartakan melalui tindakan nyata. “Iman yang kita rayakan di altar harus dihidupi dalam kehidupan komunitas dan disaksikan lewat perbuatan kasih setiap hari. Kesaksian iman bukan hanya di gereja, tapi di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di lingkungan sosial kita masing-masing,” lanjutnya.

RD. Risno bersama anak-anak KBG St. Thomas More. (Foto : Dok. KBG)
RD. Risno bersama anak-anak KBG St. Thomas More. (Foto : Dok. KBG)

Dalam bagian reflektif homilinya, RD. Risno mengangkat tema kebijaksanaan dalam berbicara sebagai salah satu wujud kasih dalam komunitas. “Sebelum kita berbicara, tanyakan dulu tiga hal: apakah yang saya katakan benar, baik, dan bermanfaat? Jika tidak, lebih baik diam,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam komunitas, setiap orang memiliki peran yang sama berharganya. “Satu virus yang bisa menghancurkan kebersamaan adalah merasa diri lebih penting dari orang lain. Dalam komunitas, semua orang penting,” tegasnya.

Berbicara tentang sikap memberi dan melayani, Romo Risno mengajak umat untuk senantiasa rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama.

“Kita lahir sebagai orang miskin dan akan kembali sebagai orang miskin. Karena itu, kalau kita memberi, berilah dengan semangat kerendahan hati, dengan hati yang berlutut,” pesannya lembut.

Ia menutup dengan ajakan untuk menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah. “Kita tidak beruntung karena lebih hebat, tetapi karena kasih Allah. Maka apa pun yang kita miliki, kita terima dari Tuhan untuk dibagikan kepada sesama,” tambahnya.

Mengakhiri homilinya, RD. Risno kembali menegaskan makna berjalan bersama sebagai Gereja. “Berjalan bersama memang tidak mudah, tetapi di situlah kita menemukan makna sejati menjadi Gereja: umat yang saling mengasihi, bersatu, dan diutus untuk bersaksi tentang kasih Kristus,” tutupnya.***

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait