Homili Misa HR SP Maria Diangkat ke Surga | Oleh RD. Mathias Daven

advanced divider

Selamat pagi, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sahabat-sahabat sekalian di Paroki Wae Sambi.

Pagi hari Minggu ini, kita berkumpul di rumah Tuhan, menyatukan hati kita yang diwarnai dengan berbagai perasaan. Saat ini, hati kita masih bergetar, sarat dengan rasa duka dan trauma yang mendalam. Pada pagi hari yang kelabu kemarin, tepat pada jam enam pagi tanggal lima belas Agustus, tanah Flores yang kita cintai ini diguncang oleh gempa bumi dahsyat yang mencapai magnitudo 7,7 skala Richter. Dalam sekejap mata, kemeriahan yang sudah kita siapkan untuk puncak Festival Golo Koe runtuh bersama dengan ribuan rumah warga miskin di seluruh pelosok pulau ini. Yang paling menyesakkan hati kita adalah kenyataan pahit bahwa belasan saudara kita telah dipanggil berpulang ke hadirat Sang Pencipta.

Keputusan Iman

Pembatalan seluruh rangkaian festival akbar dan pertunjukan seni yang telah direncanakan untuk kemarin sore bukanlah sebuah kegagalan. Sebaliknya, ini adalah sebuah keputusan iman yang mendalam yang mencerminkan kepedulian kita terhadap sesama. Kita memilih untuk berpuasa dari kegembiraan lahiriah demi berdiri tegak dalam solidaritas, merangkul air mata, dan memeluk duka sesama kita yang sedang tertimpa bencana. Dalam situasi yang begitu sulit ini, kita ditantang untuk menunjukkan kualitas iman kita dan kemampuan untuk saling mendukung satu sama lain dalam setiap langkah yang kita ambil.

Pesta Perawan Maria Diangkat ke Surga

Tepat di tengah reruntuhan puing dan tangisan inilah, Gereja hari ini mengajak kita untuk merayakan Pesta Perawan Maria Diangkat ke Surga. Mungkin di dalam hati kecil kita, kita bertanya dengan penuh kebingungan: “Bagaimana mungkin kita bisa mewartakan kemuliaan surga di saat bumi Flores yang kita pijak sedang bergoyang dan membawa kematian?” Jawaban atas rintihan hati kita itu terjawab secara misterius dalam Kitab Wahyu, yang menggambarkan seorang “Perempuan berselubungkan matahari,” yang harus berjuang melawan naga besar di padang gurun sebelum akhirnya diselamatkan oleh Allah.

Bunda Maria tidak diangkat ke surga melalui jalan karpet merah yang mulus dan bebas dari penderitaan; ia diangkat ke surga setelah jiwanya sendiri ditembus oleh pedang duka yang teramat tajam di bawah kaki salib Putranya. Dengan merenungkan misteri iman ini, kita diingatkan bahwa surga bukanlah sebuah pelarian dari realitas yang ada. Sebaliknya, surga adalah sebuah jaminan akhir yang menegaskan bahwa air mata, kehancuran rumah-rumah kita, dan bahkan kematian fisik tidak akan pernah memegang kata terakhir dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah keyakinan yang memberikan kita kekuatan di tengah segala kesulitan.

Kebangkitan Kristus

Melalui bacaan kedua hari ini, Rasul Paulus memberikan peneguhan yang sangat kuat dengan menyatakan bahwa “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai buah sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Kebangkitan Kristus dan pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah proklamasi iman yang kuat bahwa tubuh-tubuh kita yang rapuh, yang kemarin gemetar ketakutan akibat guncangan gempa, suatu hari nanti akan dimuliakan dalam keabadian.

Bunda Maria yang telah mendahului kita ke surga kini menjadi tanda pengharapan yang hidup bagi seluruh rakyat Flores. Ia membuktikan bahwa penderitaan di dunia ini bersifat sementara, tetapi kemuliaan yang disediakan Allah bagi orang-orang kecil adalah abadi. Ketika tembok-tembok beton rumah warga miskin runtuh dan merenggut rasa aman kita, iman Katolik kita menolak untuk ikut runtuh, karena kita tahu bahwa kemah kediaman kita yang sejati sedang dijaga oleh Allah di surga. Ini adalah harapan yang selalu bisa kita pegang selama kita hidup dalam iman.

Kehadiran Allah di Tengah Bencana

Kehadiran Allah di tengah bencana ini pun digemakan secara indah dalam Kidung Magnificat Maria pada Injil Lukas yang baru saja kita dengarkan. Dalam kidung tersebut, Bunda Maria memuji Allah karena Ia “memperhatikan kerendahan hamba-Nya” dan “mengangkat orang-orang yang hina.” Pada pagi hari Minggu ini, kita perlu ingat bahwa Tuhan tidak sedang tidur atau menjauh dari Wae Sambi dan seluruh daratan Flores; Dia hadir dan sedang menangis bersama kita.

Allah yang merendahkan diri itu kini mewujudnyatakan diri-Nya dalam setiap uluran tangan bapak-ibu yang saling menyelamatkan dari reruntuhan, dalam setiap bungkus nasi yang dibagikan ke tenda pengungsian, serta dalam ketulusan kita membatalkan festival demi belas kasih kepada korban. Solidaritas nyata yang kita lakukan saat ini adalah bentuk ibadah yang paling murni dan paling wangi di hadapan altar Allah, jauh lebih indah daripada panggung pertunjukan seni apa pun yang bisa kita megahkan. Dengan kata lain, setiap tindakan kecil kita yang dipenuhi dengan kasih dan perhatian adalah manifestasi dari iman kita yang hidup.

Refleksi tentang Kerapuhan Manusia

Saudara-saudari, bencana yang terjadi kemarin pagi seolah-olah menelanjangi semua kepalsuan duniawi kita. Dalam hitungan detik, tembok yang kita anggap kokoh berubah menjadi debu, dan harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun tidak lagi memiliki arti di hadapan ancaman maut. Pengalaman traumatis ini menyadarkan kita akan betapa rapuhnya hidup manusia di atas bumi ini. Namun, justru dalam kerapuhan yang ekstrem inilah, Pesta Maria Diangkat ke Surga berbisik lembut ke telinga batin kita yang sedang ketakutan.

Peristiwa iman ini mengingatkan kita bahwa tubuh kita, materi di dunia ini, dan bahkan bangunan gereja kita bisa saja hancur oleh guncangan alam. Namun, jiwa dan iman yang melekat pada Kristus tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh kekuatan bumi mana pun. Kepergian Maria ke surga adalah jaminan bahwa Allah menyediakan bagi kita sebuah tempat kediaman yang tidak dibuat oleh tangan manusia, dan ini adalah sebuah kepastian yang melampaui segala kecemasan kita akan hari esok.

Kidung Magnificat dan Perjuangan Masyarakat

Jika kita merenungkan lebih dalam bait demi bait Kidung Magnificat yang dinyanyikan oleh Maria, kita diingatkan bahwa Allah selalu berpihak pada mereka yang kecil dan menderita. Kemarin, kita menyaksikan bahwa korban yang paling parah terdampak adalah saudara-saudara kita yang miskin, mereka yang rumahnya dibangun dengan keterbatasan biaya. Mereka adalah yang paling rentan saat diguncang gempa. Melalui kenyataan pahit ini, firman Tuhan hari ini menantang nurani kita sebagai umat Paroki Wae Sambi: kita tidak boleh memalingkan wajah dari kemiskinan dan penderitaan sesama.

Meneladani Maria yang segera bergegas pergi menolong saudaranya, Elizabet, kita pun dipanggil untuk bergegas keluar dari zona nyaman kita. Pembatalan Festival Golo Koe adalah langkah awal, namun langkah selanjutnya adalah bagaimana kita secara nyata membagi roti, menyediakan pakaian, dan membantu membangun kembali puing-puing rumah mereka yang hancur. Ini adalah bukti bahwa Allah benar-benar merendahkan diri untuk mengangkat mereka yang hina melalui tangan-tangan kita. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan dapat memberikan harapan bagi mereka yang berada dalam kesulitan.

Mengubah Duka Menjadi Gerakan Kasih

Sahabat-sahabatku, tidak salah jika saat ini kita merasa sedih, kecewa, atau bahkan marah karena perayaan iman yang kita rindukan harus batal. Tetapi mari kita ubah energi duka dan trauma itu menjadi sebuah gerakan kasih yang masif. Di atas reruntuhan Flores hari ini, mari kita kibarkan bendera solidaritas yang tidak mengenal sekat. Ketika dunia melihat Flores sedang berduka, biarlah mereka juga melihat sebuah mukjizat iman: yaitu bagaimana umat Katolik di Labuan Bajo dan seluruh keuskupan ini saling memegang tangan, saling menguatkan, dan menolak untuk putus asa.

Kita tidak sedang merayakan kepunahan; kita sedang merayakan kehidupan abadi yang telah dirintis oleh Maria. Air mata yang kita teteskan dalam Misa hari Minggu ini adalah air mata suci yang mempersatukan kita dalam satu tubuh mistik Kristus yang sedang terluka. Dalam kesedihan kita, kita menemukan harapan, dan di tengah kesulitan, kita menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan kita.

Melangkah dengan Pengharapan

Akhirnya, mari kita pandang wajah Bunda Maria yang penuh kasih dan kelembutan. Dia adalah Bunda yang setia menemani kita di saat fajar badai maupun di tengah malam yang kelam. Saat kita pulang dari gereja ini nanti, bawalah pulang pengharapan, bukan ketakutan. Katakan pada keluarga kita di rumah, katakan pada tetangga kita yang sedang cemas, bahwa Flores tidak berjalan sendirian. Ada Bunda Maria yang merengkuh kita dan ada Tuhan Yesus yang memegang kendali atas hidup kita.

Mari kita melangkah masuk ke dalam Liturgi Ekaristi ini dengan keyakinan penuh, mempersembahkan duka kita menjadi persembahan yang murni. Bunda Maria diangkat ke surga, bentengilah kami dengan doamu yang kuat. Mari kita bersatu dalam iman dan harapan, mengingat bahwa di saat-saat sulit ini, kita bukan hanya bergantung pada kekuatan kita sendiri, tetapi pada kasih dan rahmat Allah yang selalu menyertai kita. Tuhan memberkati kita dan melindungi tanah Flores seutuhnya. Amin.

Oleh : RD. Mathias Daven (Imam Keuskupan Labuan Bajo, Formator Seminari Tinggi Ritapiret, dan Dosen Filsafat di IFTK Ledalero)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print