“Pesta St. Alfonsus Maria de Liguori: Kesetian Menuntut Pengorbanan”

advanced divider

Pesta St. Alfonsus Maria de Liguori

Matius 14:1-12

Di tengah gemerlap pesta istana Herodes, suara kebenaran justru dipenggal. Yohanes Pembaptis kehilangan kepala, tetapi tidak kehilangan keberanian. Ia memilih setia kepada Allah daripada mencari aman di hadapan penguasa. Darahnya menjadi tinta yang menuliskan bahwa kebenaran selalu memiliki harga.

Pesta Santo Alfonsus Maria de Liguori menghadirkan gema yang sama. Sebagai uskup, teolog, dan pendiri Kongregasi Redemptoris, ia tidak membiarkan Injil hanya tinggal di mimbar. Ia berjalan menjumpai mereka yang miskin, terluka, dan terabaikan. Melalui pewartaan dan tulisan-tulisannya, ia mengajarkan bahwa hukum Allah bukanlah belenggu, melainkan jalan menuju kasih yang membebaskan.

Matius mengingatkan bahwa dunia sering lebih menyukai tepuk tangan daripada suara hati. Herodes mengetahui yang benar, tetapi takut kehilangan muka. Sebaliknya, Yohanes rela kehilangan nyawa demi mempertahankan kebenaran. Santo Alfonsus menghidupi semangat yang sama: lebih baik dicemooh karena setia daripada dipuji karena mengkhianati hati nurani.

Hidup kita pun adalah sebuah pesta pilihan. Setiap hari kita menentukan apakah akan menari mengikuti irama dunia atau melangkah mengikuti nada Injil. Kebenaran memang tidak selalu membawa kenyamanan, tetapi selalu mengantar pada kebebasan sejati.

Semoga melalui teladan Santo Alfonsus Maria de Liguori, kita diberi keberanian seperti Yohanes Pembaptis: tetap berkata benar dengan kasih, tetap setia di tengah tekanan, dan tetap percaya bahwa terang Allah tidak pernah dapat dipenggal oleh kegelapan.

Oleh : Fr. Fredos Magung

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print