Minggu Biasa ke VXII
Matius 12:44-52
Hari ini Yesus menceritakan sebuah perumpaman tentang ladang, mutiara dan pukat seorang nelayan. Sederhana. Tapi di dalamnya tersembunyi aneka makna. Kita membedahnya satu per satu.
Pertama, ladang: tentang keberanian untuk memilih. Manusia sangat pandai hidup “setengah hati”. Setengah untuk Tuhan, setengah untuk dunia. Setengah di altar, setengah di pasar dosa. Padahal perumpaman ini tidak memberi ruang abu-abu.
Kita mesti bertanya dalam hati; apa “ladang” yang Tuhan berikan padaku? Iman yang mulai berdebu. Keluarga yang tinggalkan demi kesibukan. Panggilan pelayanan yang selalu ditunda. Kita sering biarkan harta itu terus terkubur.
Kedua, mutiara: tentang kejutan yang mengubah arah. Ada harta terpendam. Ada yang menemukannya tanpa sengaja. Ada mutiara yang dicari seumur hidup. Dua jalan, satu reaksi: “dengan gembira ia pergi menjual segala miliknya“.
Kerajaan Allah tidak pernah datang sebagai aksesoris. Ia datang sebagai pusat. Saat kita benar-benar berjumpa dengan Yesus, kita tidak lagi menawar. Kita melepas. Bukan karena kita rugi, tapi karena menemukan Dia terlalu indah untuk dibandingkan dengan apa pun. Waktu, ego, rencana, kenyamanan, dll, semuanya menjadi ringan ketika kita ada bersama dengan-Nya.
ketiga, pukat nelayan: tentang ketulusan yang diuji. Pukat ditabur ke laut. Dijala segala macam ikan. Pada akhirnya ada pemisahan.
Menjadi katolik bukan sekadar nama di babtisan. Tuhan merindukan kita untuk menjadi “ikan yang baik”, yang memberi rasa di dunia yang hambar, yang memberi hidup di tengah yang mati.
Dan diakhir perumpaman itu, Yesus menyebut kita “tuan rumah”. Yang mengeluarkan harta lama dan baru. Setia menjaga Kitab Suci dan tradisi, tetapi juga berani menemukan cara baru untuk mewartakan kasih.
Mungkin kita sudah lama mencari tapi tidak pernah sadar bahwa yang kita cari sudah sedari dulu mengetuk pintu hati kita. Kita terlalu sibuk mengumpulkan debu, sampai kehilangan emas dalam diri kita.
Sepekan ke depan, beranikah kita seperti pedagang mutiara itu? Menjual segala demi memiliki Satu-Satunya. Karena hanya Dialah yang mampu membuat hidup kita utuh, tenang, dan berharga.
Tuhan memberkati!