“Perumpaman Tentang Seorang Penabur”
(Mat 13:18-23)
Yesus membedah empat model benih dari seorang penabur secara berbeda-beda. Karena Ia tahu: Firman bisa jatuh di mana saja. Yang menentukan bukan benihnya, tapi tanahnya.
Pertama, Benih di Pinggir Jalan. Hati yang keras karena penuh distraksi dan sinisme. Firman hanya lewat begitu saja, tanpa meresap. Kita hadir secara fisik tapi pikiran melayang. Iblis tidak perlu menyerang, cukup menunggu kita lupa Tuhan. Tanpa perhatian dan kerendahan hati, Sabda tidak sempat berakar dan langsung hilang.
Kedua, Benih di Tanah Berbatu. Iman yang bersemangat tapi dangkal. Mudah menyala saat mujizat datang, mudah padam saat ada luka dan penolakan. Tidak mau berjuang untuk berdoa, hanya mau berkat. Padahal akar bertumbuh justru di tanah yang digali. Tanpa salib, iman kita rapuh dan berhenti di perasaan.
Ketiga, Benih di Tengah Semak Duri. Hati yang tidak menolak Tuhan, tapi penuh dengan kekuatiran. Keinginan jasmani lebih lebih kuat. Sabda Tuhan mencekik pelan-pelan. Kita sibuk mengejar, lupa meresap. Doa jadi rutinitas, iman kering. Tuhan minta ruang pertama, bukan sisa waktu. Tanpa dipangkas, hati takkan berbuah.
Keempat, Benih di Tanah yang Baik. Tanah baik bukan kebetulan. Ia dibentuk lewat luka yang diserahkan, ego yang dibajak, dan dosa yang bertobat. “Mendengar” artinya hati yang terbuka. “Mengerti” artinya taat walau tidak paham. “Berbuah” artinya hidup dalam kasih. Hasilnya beda-beda, tapi Tuhan menghitung kesetiaan, bukan jumlah. Yang penting: Sabda tinggal dan mengubah hidup kita. Yesus tidak menyalahkan tanah yang buruk, Ia hanya menunggu kita cukup jujur untuk berkata: “Bajaklah aku”. Ia hanya menjelaskan, supaya kita sadar dan mau menyerahkan hati untuk diolah.
Dari keempat jenis tanah ini, yang mana paling sering kita rasakan?
Tuhan memberkati!