Penulis : Yosep Min Palem
Editor : Ferdy Jemaun
Labuan Bajo, MBSBNews,- Bukit Gisela. Nama itu disemat sebagai bentuk ‘penghargaan’ kepada seorang donatur cilik asal Italia, Gisela. Tidak hanya dibangun sebagai sebuah kebun kayu, tapi tempat itu juga dibangun sebagai sebuah kebun do’a. Ada banyak misteri kesembuhan sebagai jawaban atas do’a yang didaraskan di sana.
Sebagaimana diberitakaan MBSBNews sebelumnya, bahwa Bukit Gisela (bukan Gercela, Red.) terletak di Ketentang, tepatnya di KBG St. Gregorius, Paroki MBSB Wae Sambi. Bukit itu milik Panti Asuhan Rehabilitasi Kusta dan Difabel St. Damian Cancar dan Binongko, Labuan Bajo. Dibangun oleh pendiri panti, Sr. Virgula, SSpS, sebagai kebun yang dilengkapi dengan Gua Maria sebagai tempat do’a.

Sebagai sebuah tempat do’a, Gua Maria di bukit Gisela itu kerap dikunjungi umat. Ada banyak misteri kesembuhan yang bersumber dari sana, termasuk misteri kesembuhan yang terungkap lewat sebuah botol minyak Kayu Putih.
Keberadaan satu botol minyak kayu putih di Gua Maria Penyembuh Orang Sakit di Bukit Gisela, awalnya dipertanyakan banyak pengunjung. Pasalnya, botol minyak kayu putih itu sudah setahun lebih berada di kaki arca Bunda Maria dan tidak diamankan oleh penjaga kebun milik Yayasan St. Damian Cancar itu, om Adol. Padahal keberadaan botol Minyak Kayu Putih itu cukup mengganggu pemandangan.
‘Misteri’ botol minyak kayu putih itu sedikit terkuak ketika MBSBNews mengikuti misa HUT ketiga berpulangnya Sr. Virgula SSpS di Panti St. Damian Binongko, Jum’at (27/06/2025). Egi Animus, mantan karyawan Yayasan St. Damian, tukang yang mengerjakan gua tersebut pada Juli 1999, mengisahkan bahwa Botol Minyak Kayu Putih itu merupakan milik seorang pasien yang berhasil sembuh karena rajin berdoa di tempat itu.
Egi mengaku bertemu dengan ibu tersebut di kebun Gisela, ketika ibu itu selesari berdoa di Gua. Ibu tersebut berasal dari Cowang Dereng, Labuan Bajo, dan mengaku bertahun-tahun mengalami sakit, yakni jari-jari tangannya terasa keram dan pada saat-saat tertentu rasa sakitnya sangat mengganggu. Pengobatan medis sudah dilakukan tapi tidak mengalami perubahan. Ibu tersebut, lalu pergi berdoa di Gua Maria Gisela secara rutin, dan dengan penuh pasrah menyerahkan beban hidupnya. Ibu itu merasa senang berdoa di tempat itu, karena suasananya tenang, apalagi setelah berdoa, bisa menikmati view laut pantai utara yang indah. Dan setelah beberapa kali pergi berdoa, perlahan sakitnya berkurang dan ia mengalami penyembuhan.
“Sayangnya saya tidak tahu nama ibu tersebut, tetapi dia mengaku berasal dari Cowang Dereng,” ungkap Egi.
Egi Animus juga mengakui, bahwa ia juga rutin datang ke Gua Maria di Bukit Gisela. Beberapa waktu lalu ada masalah besar yang dia hadapi berkaitan dengan status kepemilikan tanah di rumahnya yang terletak di dekat Pasar Batu Cermin. Masalah tersebut menguras banyak energi, biaya dan waktu.
“Saya sempat stres berat, namun saat itu saya teringat dengan Gua Maria di Bukit Gisela, lalu pergi berdoa secara rutin, dan akhirnya memperoleh ketenangan batin. Banyak pihak yang memberi dukungan dan memberi solusi, akhirnya perkara itu bisa terselesaikan dengan baik. Saya sangat yakin, bahwa semua kemudahan itu terjadi berkat pertolongan Bunda Maria”, ungkap Egi polos.
Nona Gisela, Seorang Difabel Yang Peduli
Lebih lanjut, tentang Gisela, donator cilik yang membantu Yayasan St. Damian untuk membeli kebun tersebut, menurut Egi Animus, seperti yang dia dengar dari cerita Sr. Virgula SSpS waktu pengerjaan gua tersebut, adalah seorang difabel berasal dari italia. Orangtuanya termasuk salah satu donatur Yayasan St. Damian dan sering berkomunikasi dengan Sr. Virgula SSpS melalui surat.

Gadis cilik itu tertarik dengan foto-foto para pasien yang dikirim dari Panti Rehabilitasi Kusta dan Difabel St. Damian Cancar dan tergugah untuk ikut membantu. Gisela lalu membuat berbagai jenis kerajinan tangan untuk dijual. Ketika hasil penjualan cukup banyak, ayahnya mengabarkan kepada Sr. Virgula SSpS, bahwa anaknya, Gisela, merindukanya untuk bertemu dan hendak berdonasi. Ayah Gisela kemudian mengharapkan, jika Sr. Virgula Cuti, mohon meluangkan waktu untuk datang ke Italia dan bertemu dengan Gisela.
Harapan itupun diwujudkan oleh Sr. Virgula. Sehingga saat cuti, Sr. Virgula datang ke Italia dan mengunjungi keluarga ini. Dalam pertemuan tersebut Gisela sangat bahagia dan beberapa kali memeluk Suster dengan hangat dan kemudian menyerahkan donasi hasil usahanya.
Sr. Virgula, SSpS sangat terharu menerima bantuan gadis cilik yang duduk di kursi roda tersebut dan berjanji memanfaatkannya dengan baik dan akan selalu mengingat dan mendoakannya. Masa cuti selesai, Sr. Virgula-pun kembali ke Manggarai.
Saat tiba di Labuan Bajo, setelah kembali dari Italia, Sr. Virgula bertemu dengan seseorang yang hendak menjual tanahnya di Ketentang, Wae Sambi. Tanah itu kemudian dibeli oleh Sr. Virgula dengan menggunakan uang yang didonasikan oleh Gisela.
Dalam perkembanganya, tanah itu dijadikan kebun dan ditanami Ubi, Jagung, Pisang dan Nenas. Namun karena di sekitanya banyak hewan liar, seperti Kera, dan lain-lain, hasil kebun tidak pernah bisa dinikmati. Karena itu, Sr. Virgula memutuskan untuk merubah isi kebun itu, dengan menanami pohon Jati dan Mahoni, yang kini sudah mendatangkan hasil.
Kebiasaan dari Sr. Virgula SSps, di setiap kebun milik yayasan selalu dibangun Gua Maria walau berukuran kecil. Ini juga bukti kedekatannya pada Bunda Maria. Demikian juga di kebun Gisela. Pada Juli 2000, Egi Animus bersama beberapa teman mengerjakan Gua tersebut dan langsung dipimpin Sr. Virgula SSpS. Kerja dimulai pagi-pagi, pukul 05,00, diawali dengan doa bersama. Kegiatan dilaksanakan sampai jam 08.00 lewat, lalu istirahat karena situasi alam sudah panas dan dilanjutkan sore hari.
“Suster turun langsung dalam pengerjaan gua, seperti mengangkat batu yang bersumber dari kebun tersebut bahkan mengatur posisi batu di gua”, kenang Egi. Gua Maria ini diberkati pada tanggal 20 Oktober 2000.
Wisata Rohani
Pimpinan Panti St. Damian Binongko, Labuan Bajo, Sr. Lidwina, SSpS saat acara mengenang 3 tahun berpulangnya Sr. Virgula SSpS kepada MBSBNews menegaskan bahwa upaya penataan Bukit Gisela tetap dilanjutkan seperti pembuatan got dan rabat jalan, pembuatan tempat parkir kendaraan, gerbang dan papan nama, Stasi jalan salib dan juga Kios rohani tempat penjualan barang-barang rohani yang dibutuhkan para peziarah serta ramuan obat tradisional hasil karya penghuni Panti.
“Kita berencana menjadikan Bukit Gisela sebagai tempat wisata religi, tempat orang merasakan kehadiran Tuhan dan Bunda Maria yang siap membantu mengangkat beban hidup dan sakit dalam berbagai bentuknya pada zaman modern ini”, ungkap Suster yang juga Kepala SMK Sta. Yosefa, Labuan Bajo itu.***


